Social Icons

Pages

Minggu, 28 November 2010

Ketika Kemaksiatan Begitu Mudah

Saat ini, keberadaan maksiat dipandang sebagai sebuah tradisi yang wajar. Bahkan dianggap kebutuhan pokok oleh sekelompok orang. Walhasil, pancaindera kita pun akrab dengan pelbagai bentuk kemaksiatan. Mulai dari yang kecil hingga yang serius. Padahal Islam mengajarkan, maksiat betapa pun kecil dan remeh bentuknya akan membawa dampak negatif bagi kehidupan pribadi pelakunya dan masyarakat. Tak hanya di akhirat kelak, namun juga di dunia.



Mungkin seorang yang bermaksiat mendapatkan kesenangan saat melakukan kemaksiatan itu. Mungkin juga ia mendapatkan kenikmatan yang dirasakan ketika tengah berkubang dalam kemaksiatan tersebut. Namun, kesenangan yang dirasakannya itu hanyalah kesenangan yang menipu.

Kenikmatan yang dirasakan itu tak lain adalah kenikmatan palsu. Semua itu karena pelaku maksiat tersebut hanya akan membuat murka Allah, Dzat yang telah menciptakan dirinya. Sekaligus menantang permusuhan kepada-Nya. Pelaku maksiat juga telah menyerobot sesuatu yang bukan menjadi hak dia untuk dikerjakan. Sehingga, bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan damai? Dan bagaimana jiwanya bisa tenang? Sedangkan Allah سبحانه وتعلى berfirman di dalam Al-Qur’an, artinya:

"Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa: 14).

PENYEBAB UTAMA KEMAKSIATAN
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Penyebab utama timbulnya semua kemaksiatan baik yang besar maupun yang kecil ada tiga, yaitu:

Pertama, keterkaitan hati kepada selain Allah. Kedua, menuruti dorongan amarah. Ketiga, menuruti dorongan syahwat. Keempat, kemaksiatan tersebut terwujud dalam perbuatan syirik, kezhaliman dan perbuatan-perbuatan keji.

Bentuk keterkaitan hati kepada selain Allah cabang-cabangnya begitu banyak dan tingkatan tertinggi di cabang tersebut ialah syirik serta mengakuai keberadaan ilah selain Allah. Sedangkan bentuk menuruti dorongan amarah juga memiliki cabang-cabang di ataranya membunuh jiwa yang diharamkan Allah, inilah cabang tertinggi. Dan bentuk menuruti dorongan syahwat yang tertinggi dalam cabang-cabangnya ialah melakukan perbuatan zina. Oleh karena itulah Allah mengumpulkan ketiganya dalam firman-Nya:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina,…" (QS. Al-Furqan: 68).

Ketiga perbuatan di atas saling tarik menarik. Syirk menarik seseorang kepada kezhaliman dan perbuatan keji, sebagaimana ikhlas dan tauhid akan menjauhkan seseorang dari kezhaliman dan kekejian itu. Demikian juga kezhaliman, ia menarik seseorang pada syirik dan pebuatan keji, sebab syirik adalah puncak dari segala kezhaliman seperti yang difirmankan oleh Allah:

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (QS. Luqman: 13).

Dan perbuatan keji itu sendiri juga dapat menyeret pelakunya kepada perbuatan syirik dan kezhaliman. Ketiganya saling berkaitan, yang satu mengajak kepada yang lain. Jika perbuatan ketiga di atas ada di dalam diri seseorang maka itu adalah akar dari kemaksiatan yang akan menjadi besar ketika seseorang itu tidak mengetahuinya.

AKIBAT MAKSIAT
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah memberitahukan kepada kita, bahwa perbuatan dosa dan maksiat bisa membahayakan hati seseorang. Efek ini akan semakin parah jika pelaku kemaksiatan itu makin menjadi-jadi dalam kemaksiatan, serta enggan beristighfar dan bertaubat. Sebaliknya, efek negatif ini akan semakin menyusut seiring dengan berkurangnya maksiat, disertai dengan istghfar dan taubatan nashuha.

Di hari kiamat kelak, tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dahsyatnya hari tersebut, kecuali orang yang menghadap Rabb-nya dengan hati yang bersih dari syubhat yang menyesatkan, dan syahwat yang mencelakakan. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى, artinya,

"Di hari harta dan anak-anak laki-laki tak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-syu’ra : 88-89).

Dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم juga menggambarkan hati seseorang ketika melakukan kemaksiatan dan seseorang yang sering beristghfar, beliau bersabbda,


إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُه


"Sesungguhanya seorang mukmin jika melakukan sebuah dosa, maka akan tertitik di hatinya noktah hitam. Maka jika ia tidak mengulanginya lagi dan beristighfar dan bertaubat, hatinya akan kembali putih bersih." (HR. Ahmad).

Begitulah gambaran orang-orang yang melakukan kemaksiatan, apabila seorang pelaku maksiat terus-menerus mengerjakan dosa, maka perbuatannya itu akan menutup hatinya sehigga ia tidak dapat menerima kebenaran kecuali dengan izin-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ran (tutup) seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, artinya,

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14).

Jadi orang-orang yang sering melakukan maksiat maka hatinya akan sulit menerima kebenaran, walaupun seluruh manusia dan jin dikumpulkan di permukaan bumi ini untuk memberikan ketenangan pada hatinya atau kebenaran maka mereka takkan sanggup. Karena hanya Allahlah yang dapat memberikan ketenangan hati kepada hamba-hamba-Nya.

Allah سبحانه وتعلى juga mengancam dengan neraka Jahannam-Nya bagi orang-orang yang tidak mempergunakan hatinya, matanya dan telinganya dengan baik. Seperti di dalam firman-Nya, artinya,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan menusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raf: 179).

MAKSIAT BESELUBUNG TAKDIR
Pelaku maksiat ketika ditanyakan kepadanya, mengapa Anda terus-menerus melakukan kemaksiatan? Maka mereka pun berdalih, “Kalau memamang Allah telah menakdirkanku untuk berbuat maksiat sebelum aku diciptakan bahkan sebelum langit dan bumi diciptakan bagaimana mungkin aku menghindari sesuatu yang telah ditakdirkan-Nya terjadi padaku?" Maka apa jawaban kita kepada mereka yang berdalih seperti itu?

Dengan tegas kita katakan kepadanya bahwa Al Qur’an telah menjelaskan kebatilan dalih mereka. Juga telah mematahkan anggapan dan pemahaman keliru mereka, serta menerangkan bahwa semua itu tidak ada gunanya bagi mereka pada hari kiamat kelak. Masalah takdir adalah masalah rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah. Masalah takdir baru akan diketahui oleh selain-Nya setelah takdir tersebut terjadi. Lalu dari mana seorang pelaku maksiat mengetahui kalau Allah telah menakdirkannya melakukan maksiat, sehingga ia dengan sesuka hati melakukan kemaksiatan?

Allah سبحانه وتعلى telah memuliakan manusia dengan memberikan mereka akal dan pemahaman. Dia juga telah menurunkan kitap suci dan mengutus para rasul untuk memberikan penjelasan kepada kaumnya agar mereka mudah memahami dengan benar antara yang haq dan yang batil. Tidak hanya sampai di situ, Allah سبحانه وتعلى juga menganugerahkan kepada hamba-Nya rasa iradah (kemauan) dan qudrah (kemampuan), di mana keduanya bisa ia pergunakan untuk menempuh salah satu jalan dari dua jalan yang ada.


Misalnya, ketika seseorang diperhadapkan dengan suatu masalah. Yaitu ketika seseorang ingin mengadakan suatu perjalanan ke suatu negeri, dan dia memiliki dua alternatif jalan yang bisa dilewatinya. Yang pertama, jalan yang sangat mudah lagi aman. Sedangkan jalan yang kedua, jalan yang sulit dan penuh bahaya, maka secara akal sehat pasti orang itu lebih memilih jalan yang pertama dan tidak memilih melewati jalan yang kedua. Bukankah seandainya jika dia memilih jalan yang kedua dan berdalih bahwa yang demikian sudah ditakdirkan oleh Allah terjadi padanya, tentulah orang-orang akan mengatakan kepadanya sebagai orang yang tidak memiliki “akal sehat”? Mengapa? Karena ia sudah tahu masalah tersebut sebelum ia mengerjakanya. Jadi ketika suatu kemaksiatan yang sudah diketahui dampak keburukannya bagi seseorang, mengapa masih dikerjakan?


Sebenarnya persoalan ini sudah jelas titik terangnya. Namun hawa nafsu pelaku maksiat itulah yang membutakan dan menulikan jiwanya. Dan dalih yang dipakai oleh si pelaku maksiat untuk membenarkan maksiatnya kepada Allah itu tidak bisa dibenarkan, karena ia melakukan kemaksiatan itu dengan sengaja. Ia sebenarnya tidak tahu apakah hal tersebut telah ditakdirkan oleh Allah terjadi pada dirinya. Sebab memang tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui hal itu kecuali Allah, atau hal itu benar-benar telah terjadi. Sebagai mana firman-Nya,


"Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok…" (QS. Luqman: 34).


Jika demikian halnya, maka bagaimana mungkin bisa dibenarkan seseorang yang berdalih dengan hal-hal yang tidak diketahuinya ketika ia telah melakukan maksiat, kemudian menginginkan dispensasi untuk maksiatnya tersebut?


TAUBAT SEBELUM AJAL

Iblis telah dilaknat dan diturunkan dari tempat kediamannya yang penuh kemulian hanya karena dia tidak mengerjakan satu sujud yang diperintahkan kepadanya. Nabi Adam Alaihissalam telah dikeluarkan dari surga hanya disebabkan oleh sesuap makanan. Maka janganlah seseorang merasa aman bila kelak Allah memasukkan dirinya ke dalam neraka hanya karena satu maksiat yang telah kita lakukannya. Sebagaimana firman-Nya, artinya,


"Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu." (QS. Asy-Syams: 15).


Kehidupan seseorang memang tergantung kepada amalan akhirnya yang diperbuatnya. Siapa saja yang shalat kemudian berhadats sesaat sebelum salam, maka shalatnya secara keseluruhan manjadi batal. Begitu juga orang yang di akhir kehidupannya dia melakukan dosa sesaat sebelum matinya, maka dia akan bertemu dengan Allah dengan keseluruhan usianya yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Maka adakah orang yang mengetahui akhir kehidupannya? Jika memang tidak ada, maka apalagi yang kita tunggu? Marilah kita segera bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada-Nya.Abdul Rasyid Yusuf .
sumber : (Al Fikrah)

Minggu, 31 Oktober 2010

DASAR-DASAR MEMAHAMI TAHUID



Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu......

Bahwasanya tauhid merupakan hal yang sangat penting, para Rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid. Bahkan Allah mengharamkan masuk surga orang yang mati dalam keadaan sebagai musyrik.

Allah berfirman [artinya]: "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan [sesuatu dengan] Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun". (Al-Maidah:72)

Oleh karena itu perlu memahami dan mengamalkan tauhid dengan benar, pada kesempatan ini akan dibahas beberapa hal yang sangat penting, sebagai dasar agar bisa memahami tauhid dengan benar.



I. MUSYRIKIN YANG DIPERANGI OLEH RASULULLAH, MEYAKINI TAUHID RUBUBIYAH

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu......

Bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfaat, Yang memberi madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan mereka sebagai muslim.

Alllah mengisahkan keadaan mereka: "Katakanlah: Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab:Allah. Maka katakanlah:Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]." (Yunus:31)

Allah juga berfirman [artinya]: "Katakanlah:Kepunyaan siapa bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah: Mengapa kamu tidak ingat? Katakanlah:Siapa yang mempunyai langit yang 7 dan yang mempunyai Arsy yang besar? Mereka menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah:Mengapa kamu tidak bertakwa? Katakanlah:Siapa yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [adzab] Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab:Kepunyaan Allah. Katakanlah: [Kalau demikian], maka dari jalan mana kamu ditipu?" (Al-Muminun:84-89)



II. MAKSUD MEREKA (MUSYRIKIN) AGAR DEKAT KEPADA ALLAH DAN MENDAPATKAN SYAFAAT

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu......

Bahwasanya mereka (musyrikin) berdoa kepada Nabi dan orang-orang shaleh yang telah mati, agar mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan mendapatkan syafaat.

Mereka (musyrikin) berkata: "Kami tidak berdoa kepada mereka (Nabi, orang-orang shalih dll) kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafaat. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka.

Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]: "Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah [berkata]: "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya" (Az-Zumar: 3)

Adapun dalil tentang syafaat yaitu firman Allah [artinya]:"Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah".(Yuunus: 18)



III. SYIRIK BUKAN HANYA MENYEMBAH BERHALA SAJA

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu......

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh musyrikin. Diantara mereka ada yang menyembah Nabi, orang-orang shaleh, para wali, para malaikat, pepohonan, bebatuan, matahari dan bulan.

Mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman Allah [artinya]:"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah [kemusyrikan], dan dien ini menjadi milik Allah semuanya." (Al-Baqarah:193)



IV. MUSYRIKIN ZAMAN SEKARANG LEBIH PARAH KESYIRIKANNYA DARI PADA MUSYRIKIN DAHULU

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu......

Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdoa secara ikhlas kepada Allah ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang.

Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang.

Hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Quran [artinya]: "Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]." (Al-Ankabut: 65)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai muwahid dan menjauhkan kita dari kesyirikan.


Sabtu, 09 Oktober 2010

PRINSIP PRINSIP AQIDAH AHLU AS-SUNNAH WAL JAMA’AH

أصول عقيدة أهل السنة والجماعة

OLEH
DR. SHALEH FAUZAN
PENERJEMAH, ABU AASIA
EDITOr, MUH YUSUF HARUN MA., MUH. MU’INUDINILLAH, ABU MIQDAD


Sekapur sirih dari

Penerjemah

Segala puji hanya milik Allah yang telah menunjuki kita semua jalan-Nya yang lurus, dan semoga shalawat serta salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita penutup kenabian dan kerasulan Muhammad bin Abdillah r beserta keluarga, shahabat, dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Bersamaan dengan bangkitnya dunia Islam dan kembalinya manusia kepada jalan penguasa alam semesta ini. Umat Islam dan kaum muslimin dituntut untuk memahami ajaran yang diyakininya dengan pemahaman yang benar sesuai yang telah difahami dan dicontohkan oleh As-salafus shalih ( para pendahulu umat ini yang shalih ) agar dia tidak terperosok ke dalam manhaj dan ajaran yang sesat dan menyesatkan.

Dalam pada itu pemahaman ajaran dan manhaj Ahluussunnah wal jama’ah harus mendasari keyakinan setiap muslim sebab dengan ajaran dan manhaj inilah seorang muslim insya Allah akan terjamin dari adzab neraka di akherat kelak.

Dan syekh doctor Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan salah seorang di antara anggota dewan majlis ‘Ulama-ulama besar di Saudi Arabia dengan buku ini beliau sedikit banyak akan menjelaskan sekelumit tentang hal-hal yang telah saya kemukakan di atas.

Akhirnya kita berdo’a kepada Allah semoga kita dikaruniai cahayaNya untuk mengarungi sisa hidup ini dengan ajaran dan hidayah-Nya dan kita diselamatkan dari segala adzab dan murka-Nya baik di dunia maupun di akherat.

Penerjemah

ABU AASIA



PENDAHULUAN

Segala puji bagi Robb semesta alam yang telah menunjuki kita semua kepada cahaya Islam dan sekali-kali kita tak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kita petunjuk, kita mohon kepada-Nya agar kita senantiasa di tetapkan di atas hidayah-Nya sampai akhir hayat sebagaimana difirmankan Allah Y :

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ [ (102) سورة آل عمران

“hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam ( surat Ali Imran : 102)

begitu pula kita memohon agar hati kita tidak di condongkan kepada kesesatan setelah kita mendapat petunjuk, Allah berfirman :

]رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ[ سورة آل عمران

“ Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati-hati kami setelah Engkau memberi kami hidayah, dan berilah kepada kami dari sisi-Mu kerahmatan sesungguhnya Engkau Maha Pemberi” ( surat Ali Imran : 8)

Dan semoga shalawat serta salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, suri tauladan dan kekasih kita, Rasulullah r, yang telah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Dan semoga ridha-Nya selalu dilimpahkan kepada para shahabatnya yang shaleh dan suci, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, serta kepada para pengikutnya yang setia selama ada waktu malam dan siang.

Wa ba’du : Inilah kalimat ringkas tentang penjelasan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang pada kenyataan hidup masa kini diperselisihkan oleh umat Islam sehingga mereka berpecah belah. Hal itu terbukti dengan tumbuhnya berbagai kelompok (dakwah) kentemporer dan jamaah-jamaah yang berbeda-beda. Masing masing menyeru manusia (umat Islam) kepada golongannya; mengklaim bahwa diri dan golongan merekalah yang paling baik dan benar, sampai-sampai seorang muslim yang masih awam menjadi bingung, kepada siapakah dia belajar Islam dan kepada jemaah mana dia harus ikut bergabung. Bahkan seorang kafirpun yang ingin masuk kedalam Islam ikut ikutan bingung. Islam apakah yang benar yang harus didengar dan dibacanya; yakni ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang telah diterapkan dan tergambar dalam kehidupan para sahabat Rasulullah yang mulia dan telah menjadi pedoman hidup sejak berabad-abad yang lalu, namun justru ia hanya bisa melihat Islam sebagai sebuah nama besar tanpa arti bagi dirinya.

Begitulah yang pernah dikatakan oleh seorang orientalis tentang Islam: “ Islam itu tertutup oleh kaumnya sendiri”, yakni orang-orang yang mengaku-ngaku muslim tetapi tidak konsisten (menetapi) dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Kami tidak mengatakan bahwa Islam telah hilang seluruhnya, dikarenakan telah menjamin kelanggengan Islam ini dengan keabadian kitabNya, sebagaimana Dia telah berfirman :

]إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ[(9) سورة الحجر

“ sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Al Qur’an, sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Maka, pastilah akan senantiasa ada segolongan kaum muslimin yang akan tetap teguh (konsisten) memegang ajarannya dan memelihara serta membelanya sebagaimana difirmankan Allah Y :

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ { (54) سورة المائدة

“ Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya (dari Islam), maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela”.

Dan firman Allah :

]هَاأَنتُمْ هَؤُلَاء تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاء وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم[ (38) سورة محمد

“ Ingatlah kamu ini, orang- orang yang di ajak untuk menafkahkan ( hartamu ) di jalan Allah, maka di antara kamu ada yang bakhil, barang siapa bakhil berarti dia bakhil pada dirinya sendiri, Allah Maha Kaya dan kamu orang-orang yang membutuhkannya, dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan menggantikan ( kamu ) dengan kaum selain kamu dan mereka tidak akan seperti kamu ( ini )”. ( QS. Muhammad : 38)

golongan atau jamaah yang dimaksud adalah yang disabdakan oleh Rasulullah r dalam haditsnya :

" لا تزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم حتى يأتي أمر الله تبارك وتعالى وهم على ذلك "

“ akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tetap membela al- haq, mereka senantiasa unggul, yang menghina dan menentang mereka tidak akan mampu membahayakan mereka hingga datang keputusan Allah Y, sedang mereka tetap dalam keadaan yang demikian” Dikeluarkan oleh Imam Al Bukhari 4/ 3641, 7460, dan Imam Muslim 5/ juz : 13, hal: 65-67, pada syarah Imam Nawawi.

Bertolak dari sinilah kita dan siapa saja yang ingin mengenal Islam yang benar beserta pemeluknya yang setia harus mengenal golongan yang diberkahi ini dan mewakili Islam yang benar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan ini agar kita bisa mengenal contoh dari mereka, dan agar supaya orang kafir yang ingin masuk Islam itupun dapat mengetahui untuk kemudian bisa bergabung.
AL-FIRQOTUN NAJIYAH

ADALAH

AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Pada masa kepemimpinan Rasulullah r kaum muslimin itu adalah umat yang satu, sebagaimana yang difirmankan Allah :

]إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ [ (92) سورة الأنبياء

“ seungguhnya kalian ini adalah umat yang yang satu, dan Aku (Allah) adalah Robb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku”.( QS. Al Anbiyaa: 92)

Maka kemudian sudah beberapa kali kaum yahudi dan munafiqun berusaha memecah belah kaum muslimin pada zaman Rasulullah r, namun mereka belum pernah berhasil. orang munafiqun berkata seperti yang dikisahkan oleh Allah Y:

]لا تُنفِقُوا عَلَى مَنْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنفَضُّوا[ (7) سورة المنافقون

“ Janganlah kamu berinfaq kepada orang-orang yang berada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar”.

Yang kemudian dibantah langsung oleh Allah Y( pada lanjutan ayat yang sama ):

] وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَفْقَهُونَ[(7)سورة المنافقون

“ pada hal milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, akan tetapi orang-orang munafiq itu tidak mengetahui.( QS.munafiqun : 7)

demikian pula, kaum yahudipun berusaha memecah belah dan memurtadkan mereka dari agama mereka :

]وَقَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُواْ بِالَّذِيَ أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُواْ آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ[ (72) سورة آل عمران

“ Segolongan (lain) dari Ahli Kitab telah berkata (kepada sesamanya) : “ (pura-pura) berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman ( para shahabat Rasul ) pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhirnya, mudah-mudahan ( dengan cara demikian ) mereka ( kaum muslimin ) kembali kepada kekafiran”.( QS, Ali Imran : 72)

walaupun demikian, makar yang seperti itu tidak pernah berhasil kerena Allah menelanjangi dan menghinakan usaha mereka.

Kemudian mereka berusaha untuk kedua kalinya, mereka berusaha kembali memecah belah kesatuan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar) dengan mengipas-ipas kaum Anshar tentang permusuhan di antara mereka sebelum datangnya Islam dan perang syair di antara mereka. Allah membongkar makar mereka dalam firmanNya :

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ [(100) سورة آل عمران

“ Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti segolongan orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman”. (QS. Ali Imran : 100)

sampai pada firman Allah Y :

] يومَ تبيضُّ وجوهٌ وتسودُّ وجوهٌ [

“ Pada hari yang di waktu ada wajah-wajah berseri-seri, dan muram…”. (QS. Ali Imran : 106)

Maka kemudian Nabi r mendatangi kaum Anshar menasihati dan mengingatkan mereka akan nikmat Islam, dan bersatunya mereka melalui Islam , sehingga pada akhirnya mereka saling bersalaman dan berpulukan kembali setelah hampir hampir terjadi perpecahan, dengan demikian gagallah pula makar yahudi, dan tetaplah kaum muslimin berada dalam persatuan .

Allah memang memerintahkan mereka untuk bersatu di atas Al Haq dan melarang perselisihan dan perpecahan, sebagaimana firmanNya:

]وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ[(105) سورة آل عمران

“ Dan jamganlah kamu menyerupai orang-orang yang berpecah belah dan berselisih sesudah datangnya keterangan yang jelas”( QS. Ali Imran : 105)

Dan firmanNya pula :

]وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ [ (103) سورة آل عمران

“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali ( agama ) Allah , dan janganlah kamu berpecah-pecah” ( QS. Ali Imaran : 103)

Dan sesungguhnya Allah telah menyariatkan persatuan kepada mereka dalam melaksanakan berbagai macam ibadah; seperti shalat , dan shiyam, menunaikan haji dan dalam mencari ilmu, Nabi Muhammad r telah memerintahkan kaum muslimin ini agar bersatu dan melarang mereka dari perpecahan dan perselisian. Bahkan beliau telah memberikan suatu berita yang berisi anjuran untuk bersatu dan larangan untuk berselisih, yakni berita tentang akan terjadinya perpecahan pada umat ini sebagaimana hal tersebut telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, sabda Beliau r :

" فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي "

“ Sesungguhnya barang siapa yang masih hidup di antara kalian dia akan melihat perselisihan yang banyak , maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelah Aku” Dikeluaekan oleh Abu Dawud: 5/4607 dan tirmidzi : 5/2676 dan dia berkata hadits ini hasan shaheh, juga oleh Imam Ahmad : 4/ 126-127, dan Ibnu Majah : 1/ 43.

Dan sabdanya pula :

"افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة. قلنا : من هي يا رسول الله ؟ قال من كان على مثل أنا عليه اليوم وأصحابي.

“Telah berpecah kaum yahudi menjadi tujuh puluh satu galongan , dan telah berpecah kaum nashrani menjadi tujuh puluh dua galongan , sedang umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan , semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kamipun bertanya: siapakah yang satu ini ya Rasulullah ? beliau menjawab : yaitu barang siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para shahabatku jalani ini” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi : 5/ 2641, dan Al Hakim dalam mustadraknya : 1/ 128-129, dan Imam Al Ajuri dalam Asy Syari’ah : 16, dan Imam Al Lalikaai dalam syarah ushul I’tiqaaq Ahlis sunnah Wal jamaah: 1/ 145-147.

Sesungguhnya telah nyata apa-apa yang telah diberitakan Rasulullah r maka berpecahlah umat ini pada akhir generasi sahabat walaupun perpecahan tersebut tidak berdampak besar pada kondisi umat semasa generasi yang dipuji oleh Rasulullah dalam sabdanya :

" خيركم قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم "

“ Sebaik baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi yang dating sesudahnya, kemudian yang datang sesudahnya” ( HR. Bukhari:3/3650. dan Muslim : 6/ 86)

Perawi hadits ini berkata: “ saya tidak tahu apakah Rasulullah r menyebut setelah generasinya dua atau tiga generasi”.

Yang demikian tersebut bisa terjadi karena masih banyaknya ulama dari kalangan muhadditsin, mefassirin, dan fuqaha. Mereka termasuk sebagai ulama tabiin dan pengikut para tabiin serta para imam yang empat dan murid-murid mereka. Juga disebabkan masih kuatnya daulah-daulah Islamiyyah pada abad-abad tersebut sehingga firqah-firqah menyimpang yang mulai ada pada waktu itu mengalami pukulan yang melumpuhkan baik dari segi hujjah maupun kekuatannya.

Setelah berlalunya abad-abad yang dipuji ini bercampurlah kaum muslimin dengan pemeluk beberapa agama-agama yang bertentangan . diterjemahkan kitab ilmu ajaran kuffar dan para raja Islampun mengambil beberapa kaki tangan pemeluk ajaran kafir untuk dijadikan menteri dan penasihat kerajaan, maka semakin dasyatlah perselisihan dikalangan umat dan percampurlah berbagai ragam golongan dan ajaran. Begitulah madzhab-madzhab yang bathilpun ikit bergabung dalam rangka merusak persatuan umat. Hal itu terus berlangsung hingga zaman kita sekarang dan sampai masa yang dikehendaki Allah. Karena Al Firqatun Najaih Ahlus Sunnah Wal Jamaah masih tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam yang benar dan berjalan di atasnya, dan menyeru kepadanya, bahkan akan tetap berada dalam keadaan demikian sebagaimana diberitakan dalam hadits Rasulullah tentang keabadiannya, keberlangsungannya dan ketegarannya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah demi langgengnya hujjah atas para penentangnnya.

Sesungguhnya kelompok kecil yang diberkahi ini berada di atas apa-apa yang pernah ada semasa para sahabat y, bersama Rasulullah r baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinannya seperti yang disabdakan oleh beliau:

" هم من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي "

“ Mereka yaitu barang siapa yang berada pada apa-apa yang aku dan para sahabat jalani hari ini”

sesungguhnya mereka itu adalah sisa-sisa yang baik dari orang-orang yang tentang meraka Allah telah firmankan :

]فَلَوْلاَ كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُوْلُواْ بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأَرْضِ إِلاَّ قَلِيلاً مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مَا أُتْرِفُواْ فِيهِ وَكَانُواْ مُجْرِمِينَ[ (116) سورة هود

“ Maka mengapakah tidak ada umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan (keshalehan) yang melarang dari berbuat kerusakan di muka bumi kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah kami selamatkan di antara mereka, dan orang –orang yang dzalim hanya mementingkan kemewahan yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa” ( QS. Huud : 116).


NAMA-NAMA AL-FIRQATUN NAJIYAH

DAN ARTINYA

Setelah kita mengetahui bahwa kelompok ini adalah golongan yang selamat dari kesesatan, maka tibalah giliran kita untuk mengetahui pula nama-nama beserta ciri-cirinya agar kita dapat mengikutinya. Sebenarnya kelompok ini memiliki nama-nama agung yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain. Dan di antara nama-namanya adalah : Al-firqatun Najiyah ( golongan yang selamat ) ; Ath thooifatul Manshuroh (golongan yang di tolong ) dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang artinya adalah sebagai berikut :
Bahwasanya kelompok ini adalah kolompak yang selamat dari api neraka, sebagaimana yang telah dikecualikan oleh Rasulullah r ketika menyebutkan kelompok-kelompok yang ada pada umatnya dengan sadbanya : “ seluruhnya di neraka kecuali satu; yakni yang tidak masuk ke dalam neraka”
Bahwasanya kelompok ini adalah kelompok yang tetap berpegang teguh kepada AlQur’an dan As Sunnah dan apa-apa yang dipegang oleh assabiqunal awwalun (para pendahulu yang pertama) baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, sebagaiman disabdakan Rasulullah r. “ Mereka itu adalah orang-orang yang berjalan di atas apa yang aku dan sahabatku lakukan hari ini”.
bahwasanya pemeluk kelompok ini adalah mereka yang menganut paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Mereka itu bisa dibedakan dari kelompok lainnya pada dua hal penting: pertama, berpegang teguhnya mereka terhadap As-sunnah sehingga mereka disebut sebagai pemeluk sunnah (Ahlus sunnah). Berbeda dengan kelompok-kelompok lain karena mereka berpegang teguh dengan pendapat-pendapatnya, hawa nafsunya, dan perkataan para pemimpinnya. Oleh karena itu, kelompok-kelompok tersebut tidak dinisbahkan kepada Sunnah, akan tetapi dinisbahkan kepada bi’dah-bid’ah dan kesesatan-kesesatan yang ada pada kelompok itu sendiri, seperti Al Qadariyah dan Al Murji’ah, atau dinisbatkan kepada para imamnya seperti Al Jahmiah, atau dinisbatkan kepada pekerjaan-pekerjaannya yang kotor seperti Ar Rafidhah dan Al Khawarij.
Adapun perbedaan yang kedua adalah bahwasanya mereka itu Ahlul Jamaah karena kesepakatan mereka untuk berpegang teguh dengan Al Haq dan jauhnya mereka dari perpecahan. Berbeda dengan kelompok-kelompok lain, mereka tidak bersepakat untuk berpegang teguh dengan Al Haq akan tetapi mereka itu hanya mengikuti hawa nafsu mereka, maka tidak ada kebenaran pada mereka yang mampu menyatukan mereka.
Bahwasanya kelompok ini adalah golongan yang ditolong Allah sampai hari kiamat, karena gigihnya mereka dalam menolong agama Allah, maka Allah menolong mereka seperti difirmankan Allah :

إنْ تَنْصُرُوا اللهَ ينصرْكُم
“ Jika kamu menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian” ( QS. Muhammad : 7)

Oleh karena itu pula Nabi Muhammad r telah bersabda :
" لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم حتى يأتي أمر الله تبارك وتعالى وهم على ذلك"
“ Tidaklah yang menghina dan menentang mereka itu akan mampu memadharatkan (membahayakan) mereka sampai datang keputusan Allah tabaaraka wata’ala sedang mereka itu tetap dalam keadaan demikian”

PRINSIP-PRINSIP

AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Sesungguhnya Ahlus Sunnah Wal Jamaah berjalan di atas prinsip-prinsip yang jelas dan kokoh baik dalam I’tiqad, amal maupun perilakunya, seluruh prinsip-prinsip yang agung ini bersumber pada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dan apa - apa yang dipegang teguh oleh para pendahulu ummat dari kalangan sahabat, tabi’in dan pengikut mereka yang setia.

Prinsip-prinsip tersebut teringkas dalam butir-butir berikut :

Prinsip pertama : beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul- rasul-Nya, Hari Akhir dan Taqdir baik dan buruknya.
Iman kepada Allah:
Beriman kepada Allah artinya berikrar dengan macam macamnya tauhid yang tiga serta beri’tiqad dan beramal dengannya, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Asma’ dan sifat.
Adapun tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan; dan bahwasanya Dia itu adalah Raja dan Penguasa segala sesuatu.
Tauhid Uluhiyah artinya mengesakan Allah melalui segala pekerjaan hamba yang dengan itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila memang hal itu disyariatkan oleh-Nya seperti berdo’a, takut, berharap, cinta, penyembelihan, nadzar, istianah( minta pertolongan, istighatsah ( minta bantuan), minta perlindungan, shalat, puasa, haji, berinfaq di jalan Allah dan segala apa saja yang disyariatkan dan diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun baik seorang malaikat, nabi, wali, maupun yang lainnya.

Sedangkan makna tauhid Al Asma’ Wash- shifat adalah menetapkan apa-apa yang Allah dan RasulNya telah tetapkan atas Dirinya baik itu berkenaan dengan nama-nama maupun sifat-sifat Allah dan mensucikannya dari segala ‘aib dan kekurangan sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Semua ini kita yakini tanpa melakukan tamtsil (perumpamaan), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tahrif (penyelewengan ), ta’thil ( penafian), dan tanpa takwil; seperti difirmankan Allah Y :

]ليس كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ[(11) سورة الشورى

“ tak ada sesuatu apapun yang menyerupaiNya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha mengetahui” ( QS. Asy- Syura : 11)

]وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا [ (180) سورة الأعراف

“ Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdo’alah kamu dengannya” ( QS. Al- A’raf : 180)


Iman kepada para Malaikat-Nya:

Yakni membenarkan adanya para malaikat, dan bahwasanya mereka itu adalah makhluk dari sekian banyak makhluk Allah, diciptakan dari cahaya. Allah menciptakan malaikat dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya dan menjalankan perintah-perintah-Nya di dunia ini, sebagai mana difirmankan Alloh :

]بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ(26) لا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ[ سورة الأنبياء

“ … Bahkan malaikat-malaikat itu adalah makhluk yang dimuliakan, mereka tidak mendahuli-Nya dalam perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya”( QS. Al-Anbiyaa: 26-27)

] جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاء[ (1) سورة فاطر

“ Allahlah yang menjadikan para malaikat sebagai utusan yang memiliki sayap dua, tiga dan empat, Allah menambah para makhluk-Nya apa-apa yang Dia kehendaki” ( QS. Fatiir : 1)



Iman kepada Kitab- kitab-Nya:


Yakni membenarkan adanya Kitab-kitab Allah beserta segala kandungannya baik yang berupa hidayah (petunjuk) dan cahaya serta mengimani bahwasanya yang menurunkan Kitab-kitab itu adalah Allah sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Dan bahwasanya yang paling agung di antara sekian banyak kitab-kitab itu adalah tiga kitab yaitu; Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, dan di antara kitab agung di atas yang teragung lagi adalah Al-Qur’an yang merupakan mukjizat yang agung. Allah berfirman :

]قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُواْ بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا [ (88) سورة الإسراء

“ Katakanlah ( hai Muhammad ) :” Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al- Qur’an niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walaupun sesama mereka saling bahu-membahu” ( QS. AL –Isra: 88)

Dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah mengimani bahwa Al Qur’an itu adalah kalam (firman) Allah, dan dia bukanlah makhluk baik huruf maupun artinya. Berbeda dengan pendapat golongan Jahmiah dan Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa Al-Qur,an adalah makhluk baik huruf maupun maknanya. Berbeda pula dengan pendapat Asy’ariyah dan yang menyerupai mereka, yang mengatakan bahwa kalam ( firman Allah ) hanyalah artinya saja, sedangkan huruf-hurufnya adalah makhluk. Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah kedua pendapat tersrbut adalah bathil, berdasarkan firman Allah :

]وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّه[ِ (6) سورة التوبة

“ Dan jika ada seorang dari kaum musyrikin meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia, sehingga ia sempat mendengar kalam Allah ( Al- Qur’an ) ( At Taubah : 6)

] يريدون أن يبدلوا كلام الله [

“ Mereka itu ingin merubah kalam Allah” (QS. Al Fath : 15)

Disitu tegas dinyatakan bahwa Al Qur’an sebagai Kalam Allah, bukan kalam yang selainnya.




Iman kepada para Rasul:

yakni membenarkan semua rasul-rasul baik yang Allah sebutkan nama mereka maupun yang tidak, dari yang pertama sampai yang terakhir, dan penutup para nabi tersebut adalah nabi kita Muhammad r. Artinya pula, beriman kepada para rasul seluruhnya dan beriman kepada nabi kita secara terperinci, serta mengimani bahwasanya bahwa beliau adalah penutup para nabi dan para rasul dan tidak ada nabi sesudahnya. Maka barang siapa yang keimanannya kepada para rasul tidak demikian berarti dia telah kafir. Termasuk pula beriman kepada para rasul adalah tidak melalaikan dan tidak berlebih-lebihan terhadap hak mereka dan harus berbeda dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang berlebih-lebihan terhadap para rasul mereka, sehingga mereka menjadikan dan memperlakukan para rasul itu seperti memperlakukannya terhadap tuhan (Allah), sebagaimana yang difirmankan Allah :

] وقالت اليهود عزير ابن الله وقالت النصارى المسيح ابن الله [

“ Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nashrani berkata: Isa Al Masih itu anak Allah” (QS. At Taubah : 30)

Sedang orang-orang sufi dan para Ahli filsafat telah bertindak sebaliknya. Mereka telah merendahkan dan menghinakan hak para rasul, dan lebih mengutamakan para pemimpin mereka, sedang kaum penyembah berhala dan atheis telah kafir kapada seluruh para Rasul tersebut. Orang yahudi telah kafir kepada Nabi Isa dan Muhammad r, sedang orang Nashrani telah kafir kepada nabi Muhammad r , dan orang- orang yang mengimani sebagian dan mengingkari sebagian (para rasul) maka dia telah mengingkari seluruh Rasul, Allah telah berfirman:

]إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيْنَ اللّهِ وَرُسُلِهِ وَيقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً(150) أُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا[ سورة النساء

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasulNya dan bermaksud memperbedakan antara ( keimanan kepada) Allah dan RasuNya, dengan mengatakan : kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir kepada sebagian ( yang lain ) , serta bermaksud ( dengan perkataan itu ) mengambil jalan di antara yang demikian ( iman dan kafir ) merekalah orang-orang yang kafir sebenar benarnya, kami telah menyediakan untuk mereka siksa yang menghinakn” ( QSAn-NISA’ :150-151)

Dan juga Allah telah berfirman :

] لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ [

“ Kami tidak membeda bedakan satu diantara Rasul rasul Nya” ( QS. Al Baqarah : 285)





Iman kepada hari kiamat:

Yakni membenarkan apa-apa yang akan terjadi setelah kematian dari hal-hal yang telah diberitakan Allah dan Rasul-Nya, baik tentang adzab dan nikmat qubur, hari kebangkitan dari qubur,, hari berkumpulnya manusia di padang mahsyar, hari perhitungan dan ditimbangkannya segala amal perbuatan, dan pemberian buku laporan amal dengan tangan kanan atau tangan kiri, tentang jembatan ( shirath ), serta surga atau neraka, di samping itu keimanan untuk bersiap sedia dengan amalan shaleh, dan meninggalkan amalan sayyiaat ( jahat ) serta bertaubat dari padanya.

Dan sungguh telah mengingkari adanya hari akhir orang-orang musyrik dan kaum dahriyyun, sedang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani tidak mengimani hal ini dengan keimanan yang benar sesuai dengan tuntunan, walau mereka beriman akan adanya hari akhir. Firman Allah :

}وَقَالُواْ لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَن كَانَ هُوداً أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ{ (111) سورة البقرة

“ Dan mereka( Yahudi dan Nashrani ) berkata : sekali-kali tidaklah masuk surga kecuali orang-orang ( yang beragama ) Yahudi dan Nashrani, demikianlah angan-angan mereka….(QS. Al Baqarah : 111)

] وقالوا لن تمسنا النار إلا أياما معدودة [

“ Dan mereka berkata: kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali hanya dalam beberapa hari saja” ( QS.Al Baqarah : 80)






Imam kepada takdir:

Yakni beriman bahwasanya Allah itu mengetahui apa-apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi; menentukan dan menulisnya dalam mahfudz; dan bahwasanya segala sesuatu yang terjadi, baik maupun buruk, kafir, iman, taat, maksiat, itu telah dikehendaki, ditentukan, dan diciptakan-Nya, dan bahwasanya Allah itu mencintai ketaatan dan membenci kamaksiatan.

Sedang hamba Allah itu mempunyai kekuasaan, kehendak, dan kemampuan memilih terhadap pekerjaan-pekerjaan yang menghantar mereka pada ketaatan atau kemaksiatan, akan tetapi semua itu mengikuti kemauan dan kehendak Allah. Berbeda dengan pendapat golongan jabariah yang mengatakan bahwa manusia terpaksa dengan pekerjan-pekerjaannya, tidak memiliki pilihan atau kemampuan, sebaliknya golongan qadariyah mengatakan bahwasanya hamba itu memiliki kemauan yang berdiri sendiri dan bahwasanya dialah yang menciptakan pekerjaan dirinya, kemauan dan kehendak itu terlepas dari kemauan dan kehendak Allah.

Allah benar-benar telah membantah kedua pendapat di atas dengan firmanNya :

] وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين [

“ Dan Kamu tidak bisa berkemauan seperti itu kecuali apabiala Allah menghendakinya” ( QS. At Takwir : 29)

Dengan ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi setiap hamba sebagai bantahan bagi jabariyah yang ekstrim, bahkan menjadikannya sesuai dengan kehendak Allah, hal ini merupakan bantahan atas golongan qadariyah. Dan beriman kepada takdir dapat menimbulkan sikap sabar sewaktu seorang hamba menghadapi berbagai cobaan dan menjauhkannya dari segala perbuatan dosa dan hal-hal yang tidak terpuji, bahkan dapat mendorong orang tersebut untuk giat bekerja dan menjauhkan dirinya dari sikap lemah takut dan malas.











Prinsip kedua :

Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah : bahwasanya iman itu perkataan, perbutan, dan keyakinan yang bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan,maka iman itu bukan hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan sebab yang demikian itu merupakan keimanan kaum munafiq, dan bukan pula iman itu hanya sekedar ma’rifah (pengetahuan) dan meyakini tanpa ikrar dan amal sebab yang demikian itu merupakan keimanan orang-orang kafir yang menolak kebenaran. Allah berfirman :

]وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ[ (14) سورة النمل

“ dan mereka mengingkarinya karena kadzoliman dan kesombongan (mereka), padahal hati-hati mereka meyakini kebenarannya, maka lihatlah kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan” ( Al Annaml : 14).

] فإنهم لا يكذبونك ولكن الظالمين بآيات الله يجحدون [

“ … karena sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, akan tetapi orang-orang yang dzalim itu menentang ayat-ayat Allah” (QS. Al Al’am : 33)

]وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَد تَّبَيَّنَ لَكُم مِّن مَّسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ[ (38) سورة العنكبوت

“Dan kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu kehancuran tempat-tempat tinggal mereka. Dan syetan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah pada hal mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam” ( QS. Al Ankabut : 38)

bukan pula iman itu hanya satu keyakinan dalam hati atau perkataan dan keyakinan tanpa amal perbuatan, karena yang demikian adalah keimanan golongan murjiah, Allah sering kali menyebut amal perbuatan termasuk iman sebagaimana tersebut dalam firmanNya :

]إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ(2) أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا [ (4) سورة الأنفال

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah meraka yang apabila ia disebut nama Allah bergeter hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya dan kepada Allah-lah mereka bertawakkal, ( yaitu ) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan apa-apa yang telah dikaruniakan kepada mereka, merekalah orang-orang mukmin yang sebenarnya( QS. Al Anfaal : 2-4)

] وما كان الله ليضيع إيمانكم [

“ Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian” ( QS. Al Baqarah : 143)

yaitu shalatmu dengan menghadap ke baitul Maqdis, maka shalat di sini dinamakan iman.


Prinsip ketiga :

Dan di antara prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah bahwasanya mereka tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya. Adapun perbuatan dosa besar selain kemusyrikan dan tidak ada dalil yang menghukumi pelakunya sebagai kafir, misalnya meninggalkan shalat karena malas, maka pelaku (dosa tersebut) tidak dihukumi kafir akan tetapi di hukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila ia mati sedang dia belum bertaubat maka dia berada dalam kehendak Allah. Jika Ia berkehendak Ia akan mengampuninya dan jika Ia berkehendak Ia akan mengazdabnya, namun sipelaku tidak kekal di neraka, Allah telah berfirman :

] إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر مادون ذلك لمن يشاء[

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa-dosa selainnya bagi siapa yang di kehendakiNya ..(QS. An Nissa’ : 48)

Dan madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam masalah ini di antara tengah-tengah khawarij yang mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar walau bukan termasuk syirik, dan murjiah yang mengatakan si pelaku dosa besar sebagai mukmin sempurna imannya, dan mereka mengatakan pula tidak berarti suatu dosa maksiat dengan adanya iman, sebagaimana tak berarti suatu perbuatan taat dengan adanya kekafiran.


Prinsip keempat :

Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat, apa bila mereka memerintahkan berbuat maksiat di kala itulah kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya, sebagaimana firman Allah Y :

] يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم [

“ Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatkan kepada Rasul serta para pemimpin di antara kalian ..” ( QS. An Nisaa :59)

Dan sabda Nabi r :

" أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمّر عليكم عبد "

“ Dan aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian seorang hamba”

Dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah memandang bahwa maksiat kepada seorang amir yang muslim itu merupakan maksiat kepada Rasulullah r , sebagaimana sabdanya :

" من يطع الأمير فقد أطاعني ومن عصى الأمير فقد عصاني "

“ Barang siapa yang taat kepada amir ( yang muslim ) maka dia taat kepadaku dan barang siapa yang maksiat kepada amir maka dia maksiat kepadaku “( HR. Bukhari Muslim)

Demikian pula Ahlus Sunnah Wal Jamaah memandang bolehnya shalat dan berjihad di belakang para amir dan menasehati serta mendoakan mereka untuk kebaikan dan keistiqomahan.


Prinsip kelima:

Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah haramnya keluar untuk memberontak terhadap pimpinan kaum muslimin apabila melakukan hal-hal yang menyimpang, selama hal tersebut tidak termasuk amalan kufur. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah r tentang wajibnya taat kepada mereka dalam hal-hal yang bukan maksiat dan selama belum tampak pada mereka kekafiran yang jelas. Berlainan dengan Mu’tazilah yang mewajibkan keluar dari kepemimpinam para imam pemimpin yang melakukan dosa besar walaupun belum termasuk amalan kufur, dan mereka memandang amalan tersebut sebagai amar ma’ruf nahi mungkar. Sedang pada kenyataannya Mu’tazilah seperti ini merupakan kemungkaran yang besar karena menuntut adanya bahaya bahaya yang besar baik berupa kericuan, keributan, dan kerawanan dari pihak musuh.


Prinsip keenam :

Dan diantara prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah bersihnya hati dan mulut mereka terhadap para sahabat Rasuly, sebagaimana hal ini telah digambarkan oleh Allah Y ketika mengkisahkan sahabat Muhajirin dan Anshar dan pujian-pujian terhadap mereka :

]وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ[(10) سورة الحشر

“ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan : ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian kepada orang-orang yang beriman; ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” ( QS. Al Hasyr : 10)

Dan sesuai sabda Rasulullah r :

" لا تسبوا أصحابي فوالذي نفسي بيده لو أنفق أحدكم مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه"

“ Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku di tanganNya, kalau seandainya salah seorang di antar kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan mencapai segenggam kebaikan salah seorang di antara mereka tidak juga setengahnya”( HR. Bukhari: 3/ 3673,dan Muslim:6/92-93)

Berlainan dengan sikap dengan orang-orang ahlul bid’ah baik dari kalangan Rafidhah maupun khawarij yang mencela dan meremehkan keutamaan para sahabat.

Ahlus Sunnah memandang bahwa para khalifah setelah Rasulullah r adalah Abu Bakar, kemudian, Umar bin Khatab, ‘Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib RA. Barang siapa yang mencela salah satu khalifah di antara mereka, maka dia lebih sesat dari pada keledai karena bertentangan dengan nash dan ijma’ atas kekhalifahan mereka dalan urutan seperti ini.


Prinsip ketujuh:

Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah mencintai ahlul bait sesuai dengan wasiat Rasulullah r dalan sabdanya :

" أذكركم الله في أهل بيتي "

“ Sesungguhnya aku mengingatkan kalian dengan ahli baitku “

Sedang yang termasuk ahli bait ( keluarga ) beliau adalah istri-istrinya sebagai ibu kaum mu’minin RA. Dan sungguh Allah telah berfirman tentang mereka setelah menegur mereka :

] يا نسآء النبي [

“ Wahai wanita-wanita Nabi …( QS. Al Ahzaab : 32)

kemudian mengarahkan nasihat-nasihat kepada mereka dan menjanjikan mereka dengan pahala yang besar, Allah berfirman :

] إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا [

“ Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya ( QS. Al Ahzaab: 33)

Pada pokoknya ahlul bait itu adalah saudara-saudara dekat Nabi r dan yang dimaksudkan di sini khususnya adalah yang shaleh di antara mereka. Sedang saudara-saudara dekat yang tidak shaleh, seperti pamannya, Abu Lahab, maka mereka tidak memiliki hak. Allah berfirman :

] تبت يدآ أبي لهب وتب [

“ Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan sungguh celaka dia” ( QS. Al Lahab : 1)

Mereka sekedar hubungan darah yang dekat dan bernisbat kepada Rasul r tanpa keshalehan dalam beragama ( Islam ) tidak ada manfaat dari Allah sedikitpun baginya, Rasul r bersabda :

" يا معشر قريش اشتروا أنفسكم لا أغني عنكم من الله شيئا, يا عباس عم رسول الله لا أغني عنك من الله شيئا, يا صفية عمة رسـول الله لا أغني عنك من الله شيئا, يا فاطمة بنت محمد سليني من مـالي ما شئت لا أغني عنك من الله شيئا"

“ Hai kaum quraisy, belilah diri-diri kamu, sebab aku tidak dapat memberi kamu manfaat di hadapan Allah sedikitpun, wahai Abbas paman Rasulullah , aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah. Wahai Shafiah bibi Rasulullah , aku tidak dapat memberi manfaat apapun di hadapan Allah, wahai Fathimah anak Muhammad, mintalah dari hartaku semaumu, aku tidak dapat memberikan manfaat apapun di hadapan Allah” (HR. Bukhari: 3/ 2753, dan Muslim : 3/80-81)

Dan saudara-saudara Rasulullah r yang shaleh tersebut mempunyai hak atas kita berupa penghormatan, cinta dan penghargaan, namun kita tidak boleh berlebih-lebihan dengan mendekatkan diri dengan suatu ibadah kepada mereka. Adapun keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau madlarat selain dari Allah adalah bathil, sebab Allah telah berfirman :

] قل إني لا أملك لكم ضرا ولا رشدا [

“ Katakanlah( hai Muhammad) bahwasanya aku tidak kuasa mendatangkan kemadharatan dan manfaat bagi kalian: (QS, Al Jin : 21)

] قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله , ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير وما مسني السوء [

“ Katakanlah ( hai Muhammad ) : Aku tidak memiliki manfaat atau madlarat atas diriku kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah , kalaulah aku mengetahui yang ghaib sungguh aku akan perbanyak berbuat baik dan aku tidak akan ditimpa kemadlaratan ( QS. Al A’raf : 188)

Apabila Rasulullah r saja demikian , maka bagaimana pula yang lainnya. Jadi apa yang diyakini sebagian manusia terhadap kerabat Rasulullah r adalah suatu keyakinan yang bathil.


Prinsip kedelapan :

Dan di antara prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan adanya karomah para wali, yaitu apa-apa yang Allah perlihatkan melalui tangan-tangan sebagian mereka berupa hal-hal yang luar biasa sebagai penghormatan kepada mereka sebagaimana hal tersebut telah ditunjukkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Sedang golongan yang mengingkari adanya karomah-karomah tersebut di antaranya mu’tazilah dan Jahmiah, yang pada hakekatnya mereka mengingkari sesuatu yang diketahuinya. Akan tetapi kita harus mengetahui bahwa ada sebagian manusia pada zaman kita sekarang yang tersesat dalam masalah karomah, bahkan berlebih-lebihan, sehingga memasukkan apa-apa yang sebenarnya bukan termasuk karomah, baik berupa jampi-jampi, pekerjaan para ahli sihir, syetan-syetan dan para pendusta. Perbedaan karomah dan kejadian yang luar biasa lainnya itu jelas. Karomah adalah kejadian luar biasa yang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya yang shaleh, sedang sihir adalah keluarbiasaan yang biasa diperlihatkan para tukang sihir dari orang-orang kafir dan atheis dengan maksud untuk menyesatkan manusia dan mengaruk harta-harta mereka. Karomah bersumber pada kataatan, sedang sihir bersumber pada kekafiran dan kemaksiatan.


Prinsip kesembilan :

Dan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah bahwa dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah r baik secara lahir maupun batin dan mengikuti apa-apa yang di jalankan oleh para sahabat dari kaum Muhajirin maupun Anshar pada umumnya dan khususnya mengikuti Al-Khulafaurrasyidin sebagaimana wasiat Rasulullah r dalam sabdanya:

" عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين "

“ Berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku, dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk”

Dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak mendahulukan perkataan siapapun terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah r. Oleh karena itu mereka di namakan Ahlul Kitab was Sunnah. Setelah mengambil dasar Al Qur’an dan As Sunnah mereka mengambil apa-apa yang telah disepakati ‘ulama umat ini. Inilah yang disebut dasar ketiga yang selalu dijadikan sandaran setelah dua dasar yang pertama; yakni Al Qur’an dan As Sunnah. Segala hal yang diperselisihkan manusia selalu dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah. Allah telah berfirman :

] فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا [

“ Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu , maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari akhir, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya” ( An Nisa’: 59)

Ahlus Sunnah tidak meyakini adanya kema’suman seseorang selain Rasulullah r dan mereka tidak berta’assub ( fanatik) pada suatu pendapat sampai pendapat tersebut bersesuaian dengan Al Kitab dan As Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid itu bisa salah dan benar dalam ijtihadnya. Mereka tidak boleh berijtihad sembarangan kecuali mereka yang telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul ‘ilmi.

Perbedaan perbedaan di antara mereka dalam masalah ijtihad tidak boleh mengharuskan adanya permusuhan dan saling memutuskan hubungan di antara mereka, sebagaimana yang di lakukan oleh orang-orang yang taassub ( fanatik ) dan ahli bid’ah. Sungguh mereka tetap mentolerer perbedaan yang layak (wajar), bahkan mereka tetap saling mencinta, berwali (berloyalitas ) satu sama yang lain; sebagian mereka tetap shalat di belakang yang lain betapun ada perbedaan masalah far’I (cabang) di antara mereka. Sedang ahli bid’ah memusuhi, mengkafirkan dan menghukumi sesat kepada setiap orang, yang menyimpang dari golongan mereka.


PENUTUP

Kemudian dengan adanya prinsip-prinsip yang telah dikemukakan di muka, mereka senantiasa berakhlak mulia sebagai pelengkap aqidah yang diyakini.

Di antara sifat-sifat yang agung itu adalah :


Mereka beramar ma’ruf dan nahi mungkar seperti yang diwajibkan syari’at dalam firman Allah berikut ini :


]كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ [ (110) سورة آل عمران

“ Jadilah kalian umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, beramar ma’ruf dan nahi mungkar dan kalian beriman kepada Allah”( QS, Ali Imran : 110)

" من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه,وذلك أضعف الإيمان "

“ Barang siapa di antara kamu menyaksikan suatu kemungkaran , maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, apabila tidak mampu maka robahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman ( HR. muslim : 2/ 22, syarah Nawawi )

Sekali lagi , amar ma’ruf dan nahi mungkar hanya terhadap apa-apa yang diwajibkan oleh syari’at, sedang orang-orang Mu’tazilah dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar keluar dari apa-apa yang diwajibkan oleh syar’I, sehingga mereka berpandangan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah keluar dari ketaatan kepada para pemimpin kaum muslimin apabila mereka melakukan perbutan maksiat, walaupun belum termasuk perbuatan kufur, sedang Ahlus Sunnah Wal Jamaah memandang wajib menasihati mereka dalam hal kemaksiatannya tanpa harus keluar memberontak mereka. Hal ini dilakukan dalam rangka mempersatukan kalimat dan menhindari perpecahan dan perselisihan. telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiah : barang kali hampir tidak dikenal suatu kelompok keluar memberontak terhadap pemilik kekuasaan kecuali lebih banyaknya kerusakan yang terjadi katimbang terhapusnya kemungkaran (melalui cara pemberontakan tersebut ).
Ahlus Sunnah Wal Jamaah tetap menjaga tegaknya syi’ar Islam baik dengan menegakkan shalat jum’at dan shalat berjamaah sebagai pembeda pembeda terhadap kalangan ahli bid’ah dan orang-orang munafiq yang tidak mendirikan shalat Jum’at maupun shalat jamaah.
Memberikan nasehat bagi setiap muslim, bekerja sama dan tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa sebagaimana sbda Nabi Muhammad r :

" الدين النصيحة قلنا : لمن، قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم "

“ Addin ( agama ) itu nasihat; kami bertanya: untuk siapa ? Beliau menjawab : Untuk Allah, Kitab-Nyaو RasulNya dan para imam kaum muslimin serta kaum muslimin pada umumnya( HR. Muslim : 2/ 36, Syarah Nawawi )

" المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا "

“ Orang mu’min bagi orang mu’min yang lain bagaikan satu bangunan yang satu sama yang lain saling mengokohkan” (HR, Bukhari : 4/ 6026), Muslim : 16/139 syarah Nawawi )

Mereka tegar balam menhadapi ujian-ujian dengan sabar ketika mendapat cobaan dan bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan dan menerimanya sesuai dengan ketentuan Allah.

Bahwasanya mereka selalu berakhlak mulia dan beramal baik, berbuat baik kepada orang tua, menyambung tali persaudaraan, berlaku baik dengan tetangga, dan mereka senantiasa melarang dari sikap bangga, sombong, dzalim, sesuai dengan firman Allah :


‎]‏وَاعْبُدُواْ‮ ‬اللّهَ‮ ‬وَلاَ‮ ‬تُشْرِكُواْ‮ ‬بِهِ‮ ‬شَيْئًا‮ ‬وَبِالْوَالِدَيْنِ‮ ‬إِحْسَانًا‮ ‬وَبِذِي‮ ‬الْقُرْبَى‮ ‬وَالْيَتَامَى‮ ‬وَالْمَسَاكِينِ‮ ‬وَالْجَارِ‮ ‬ذِي‮ ‬الْقُرْبَى‮ ‬وَالْجَارِ‮ ‬الْجُنُبِ‮ ‬وَالصَّاحِبِ‮ ‬بِالجَنبِ‮ ‬وَابْنِ‮ ‬السَّبِيلِ‮ ‬وَمَا‮ ‬مَلَكَتْ‮ ‬أَيْمَانُكُمْ‮ ‬إِنَّ‮ ‬اللّهَ‮ ‬لاَ‮ ‬يُحِبُّ‮ ‬مَن‮ ‬كَانَ‮ ‬مُخْتَالاً‮ ‬فَخُورًا‮ ‭[‮

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karibkerabat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” ( QS. An Nisaa: 36)


" أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا "

“ Yang paling sempurna imannya diantara kaum mu’minin adalah yang baik akhlaknya” ( ( HR, Ahmad : no : 7396, tirmidzi : 3/ 1162, Abu daud : 5/ 4682, dan Al haitsamy , no: 1311,1926)

Kita memohon kepada Allah Y agar berkenan menjadikan kita semua bagian dari mereka dan tidak menjadikan hati kita condong kepada kekafiran setelah diberi petunjuk ( hidayah-Nya ) dan semoga shalawat serta salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad r , keluarganya beserta sahabat-sahabatnya. Aamin.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Agar Sulit Bermaksiat

Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah, Dia berkata: “Ya Abu Ishaq, aku sering berbuat maksiat. Katakan sesuatu kepadaku sebagai nasihat yang bisa membantuku.”
Ibrahim berkata: “Jika kamu menerima 5 perkara dan kamu mampu melakukannya, niscaya kemaksiatan tidak akan merugikanmu.”
Dia menjawab, “Katakan wahai Abu Ishaq”

Ibrahim berkata, “Pertama, jika kamu hendak bermaksiat kepada Allah ta’ala maka jangan kamu makan rizki-Nya”
Laki-laki itu berkata, “Dari mana aku makan sementara semua yang ada di bumi adalah rizki-Nya?”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, apakah pantas engkau memakan rizki-Nya, sementara itu engkau bermaksiat kepada-Nya?”
Laki-laki itu menjawab, “Tidak pantas. Katakan yang kedua.”
Ibrahim menjawab, “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”
Laki-laki itu menjawab, “Yang ini lebih berat. Dimana saya akan tinggal?”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, pantaskah engkau bermaksiat kepada-Nya, sementara engkau makan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya?”
Laki-laki itu menjawab, “Tidak pantas. Katakan yang ketiga.”
Ibrahim berkata, “Jika kamu hendak bermaksiat kepada-Nya, kamu makan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat dimana Dia tidak melihatmu. Disitulah kamu bisa melakukannya.”
Laki-laki itu menjawab, “Wahai Ibrahim, apa ini? Mana mungkin, sementara Dia mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi.”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, apakah pantas kamu makan rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya, lalu kamu bermaksiat kepada-Nya, padahal Dia melihatmu, mengetahui apa yang kamu tampakkan dan kamu rahasiakan?”
Laki-laki itu menjawab, “Tidak. Katakan yang keempat.”
Ibrahim menjawab, “Jika Malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, maka bilang kepadanya, “Nanti dulu, aku mau bertaubat dengan benar-benar dan beramal kerana Allah.”
Laki-laki itu berkata, “Dia tidak mungkin akan menerima.”
Ibrahim berkata, “Wahai Bapak, jika engkau tidak mampu menolak malaikat maut supaya engkau bisa bertaubat dan engkau mengetahui bahwa jika dia mendatangimu dia tidak memberimu kesempatan, lantas bagaimana engkau berharap selamat?”
Laki-laki itu berkata, “Katakan yang kelima?”
Ibrahim berkata, “Jika malaikat Zabaniyah mendatangimu pada hari Kiamat untuk menyeretmu ke Neraka, maka jangan engkau menurutinya.”
Laki-laki itu berkata, “Mereka tidak akan membiarkanku dan tidak akan menerimaku.”
Ibrahim bertanya, “Bagaimana engkau bisa berharap selamat?”
Laki-laki itu berkata, “Ya Ibrahim, cukup..cukup.., aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah.”
Laki-laki itu benar-benar memenuhi janji taubatnya. Dia rajin beribadah dan menjauhi maksiat sampai dia meninggal dunia.
Dimbil dari “Mausu’ah Qishashis Salaf”, edisi bahasa Indonesia “Ensklopedi Kisah Generasi Salaf” karya Ahmad Salim Baduwailan, penerbit Elba

REMAJA NOL

oleh: Abu Nabiela eL Medina
Bangsa yang kalah akan selalu mengikut atau mengekor pada bangsa yang menang. Dulu orang eropa selalu menunggu karya kaum muslim untuk diikuti karena masa itu adalah masa keemasan Islam. Allah telah memenangkan kaum muslimin dalam banyak peperangan melawan bangsa Persia dan romawi. Kedua emperium besar ini tunduk di bawah pengaruh dan kekuasaan Islam.

Ketahuilah sobat, tak lain dan tak bukan. Penyebab utama kejayaan Islam waktu itu adalah karena kaum muslimin masih berpegang teguh pada al Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup mereka. Keduanya adalah pusaka warisan seorang hamba, nabi dan rasul pilihan Allah. Dialah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Namun, waktu cepat berlalu. Keadaan telah terbalik, justru saat ini kaum muslimin menjadi bulan-bulanan korban penindasan musuh. Negeri kaum muslimin telah dijajah. Pusaka nabi telah dilupakanlah kini. Sebagian besar kaum muslimin telah mengekor bahkan tunduk kepada musuh. Na’udzu billah min dzalik.
Dapat dibayangkan, musibah demi musibah terjadi. Korban bergelimpangan. Kita bahkan hanya bisa menonton saudara-saudara kita menjadi korban kebiadaban Amerika(Nashrani), Israel(Yahudi), Iran(Syiah) dan sekutu-sekutunya.
Kemajuan yang musuh raih sungguh menyilaukan mata. Seakan tak bisa dibendung lagi, semua yang keluar dari mereka kita telan mentah-mentah. Tak ada lagi filter iman. Yah, memang peperangan ini akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Namun, siapakah yang rela menggadaikan imannya? Bukankah iman adalah syarat masuk surga-Nya? Apakah penjajahan ini telah mencabut iman kaum muslimin? Terus bagaimana dengan para generasi muda Islam. Bagaimana jadinya ya, kalo mereka telah mengekor dan berpihak pada musuh? Pertanyaan ini mudah-mudahan dapat mengalihkan perhatian kamu pada Islam.
Sobat muda, pembahasan kita kali ini adalah tentang penyakit remaja Islam yang tentunya harus dihindari. Besar kemungkinan penyakit itu adalah hasil suntikan virus mematikan dari musuh-musuh Islam. Nah, remaja penyakitan tersebut kita namakan dengan “remaja nol”.
Hakikat Remaja Nol
Saudaraku, kita semua tentu sudah tau tentang pemutus kelezatan dunia, banyak orang yang takut dan mau lari darinya. Dialah kematian. Maut adalah akhir bagi semua makhluk. Tapi, tentu saja terpaut jauh antara orang yang mati konyol dengan yang mati dalam kemuliaan. Sangatlah jauh berbeda antara orang yang mati dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan yang mati dalam kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Sungguh berbeda antara pemuda yang mati sedangkan hatinya senantiasa terbakar dalam semangatnya memperjuangkan Islam, sangatlah berbeda dengan mereka yang mati dalam syahwat dunia dan kelezatannya yang menyilaukan mata para pemujanya. Bukankah sudah tiba saatnya bagi pemuda dan pemudi untuk menyadari apa hakikat dan tujuan hidup ini, untuk apa kita diciptakan?.
Kerakteristik remaja nol
1. Malas
Remaja nol adalah sosok pemuda yang tidak pernah mau membebani dirinya dengan suatu kesibukan. Bahkan sampai kepentingan dirinya sendiri pun mereka tidak mau ambil pusing. Bayangin deh, bagaimana hancurnya gaya hidup remaja ini. Tak ada yang bisa kita harapkan darinya. Kita akan melihat remaja nol malas belajar, malas mengerjakan tugas-tugasnya hingga kebutuhan hidupnya yang urgen sekalipun ia malas untuk memikirkannya dan yakin saja ia kan malas untuk mewujudkannya.
Lalu, apa yang akan kita katakan tentang ibadahnya, shalat malam, witir, sunnah rawatib, puasa sunnah, membaca al-qur’an dan ibadah wajib dan sunnah lainnya.
Sungguh berat bagi remaja nol untuk melakukan yang wajib apalagi yang sunnah. Sehingga sangat dikhawatirkan mereka mempunyai sifat yang sama dengan orang-orang munafik yang digambarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya;
…dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. [an Nisaa:142]
Riya Ialah melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat. mereka shalat hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.
Lalu bagaimanakah keadaan remaja nol jika dihadapkan dengan permasalahan umat Islam? Sudikah mereka memikirkan keadaan saudaranya muslim? Bagaimanakah si remaja nol ini memposisikan diri dalam barisan dakwah? “Allahumma inniy a’udzu bika minal’ajzi wal kasl wa minal jubni wal bukhl” artinya; Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ketidakberdayaan, dan kemalasan, dan dari kepengecutan, dan kebakhilan” inilah diantara doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Beliau senantiasa meminta kepada Allah untuk dijauhkan dari sifat malas. Sobat muda, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta perlindungan kepada Allah untuk dijauhkan dari sifat yang tercela yaitu sifat malas. Sebagaimana kita juga dianjurkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan. Ini menunjukkan buruknya sifat ini. Sifat yang harus kita buang sejauh-jauhnya.
2. Mencukupkan diri dengan cita-cita yang rendah padahal ia mampu untuk menggapai yang lebih tinggi dan yang terbaik.
Remaja dengan sifat yang kedua ini adalah remaja nol yang obsesi da cita-citanya adalah untuk sesuatu yang biasa-biasa saja.
Ibnul Jauzi pernah berkata dalam kitab Shaidul Khaathir; diantara cirri-ciri kesempurnaan akal adalah cita-cita yang tinggi sedangkan yang merasa puas dengan yang rendah adalah orang yang hina dan saya belum melihat aib yang nyata pada manusia sebagaimana aibnya orang tidak mau mencapai kesempurnaan.
Beliau juga berkata; seandainya derajat kenabian bisa diperoleh dengan ijtihad(kesungguhan), maka aku akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya; “Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (al Furqan:74)
Lihatlah sobat, “Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” Allah tidaklah mengatakan “Jadikanlah kami diantara orang-orang yang bertaqwa” lihatlah! Allah mendidik kita untuk senantiasa mempunyai semangat yang tinggi lagi suci terbukti dengan amalan nyata.
Dengarkanlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;”jika kalian meminta surge kepada Allah, maka mintalah kepadaNya surga firdaus yang tinggi”
Kenapa kita mesti meminta surga firdaus yang tinggi? Karena seorang muslim adalah pribadi yang senantiasa berada dalam kebenaran, ia hidup dalam kemuliaan dan takkan rela untuk dihinakan, jika ia mati ia pun mati dalam kemuliaan yaitu syahid di jalan Allah Ta’ala. Seorang muslim selalu menjadikan Allah sebagai tempat untuk berlindung sehinga Jannah yang tertinggi adalah balasan yang setimpal untuknya.
Imam Ahmad pernah berkata; masa peristirahatan seorang mukmin adalah awal menginjakkan kakinya di surga.
Sobat muda, kita takkan pernah lepas dari fitnah dan cobaan maupun masalah. Menuntut ilmu adalah masalah, apatah lagi berkorban di jalan Allah Ta’ala. Bahkan dalam kubur, padang mahsyar pun kita masih perlu untuk berjuang. Jadi, kapankah kita lepas dari masalah? Yah, Surga adalah tempat peristirahatan yang hakiki. Maka semua orang akan masuk surga kecuali yang menolak. Yaitu orang-orang yang berpaling dari petunjuk al-qur’an dan sunnah.
3. Tidak punya tujuan atau skala prioritas dan tidak mau berusaha mencoba hal yang baru.
Merasa puas dengan bangun jam 5 subuh untuk shalat subuh tanpa ada keinginan dan usaha untuk bangun lebih awal padahal itu adalah yang terbaik bagi seorang muslim.
Murid Imam Ahmad pernah berkata; aku menemani beliau(Imam Ahmad) selama kurang lebih 20 tahun. Setiap hari selama 20 tahun itu, selalu saja saya melihat Imam Ahmad mengalami perubahan kearah yang lebih baik.
Perinsip seorang muslim: setiap hari mengalami perubahan kearah yang lebih baik, tidak puas dengan yang ada sekarang ini.
Sobat muda, saat ini menghabiskan waktu adalah fenomena yang melanda para remaja. Seorang ulama yaitu Syaikh Jamaluddin al Qaasimy di damaskus, beliau pernah lewat disebuah warung kopi dimana di dalamnya banyak orang yang duduk-duduk minum dengan santainya, beliau berkata; seandainya waktu mereka bisa kubeli maka sungguh aku akan membelinya.
Fenomena menghabiskan waktu sungguh sangat memprihatinkan. Seharusnya kopi tersebut bisa diminum dalam beberapa menit saja tapi, kebanyakan orang rela membuang waktunya berjam-jam dihadapn secangkir kopi.
Beliau juga pernah diundang pada sebuah acara perjamuan, beliau bersedia untuk ikut dengan syarat beliau di izinkan untuk membawa buku yang akan ia baca. Hal itu Beliau lakukan demi untuk menggunakan waktunya kepada hal-hal yang bermanfaat.
4. Terlalu dini mengucapkan kata “mustahil” dan “saya tidak bisa”.
Sejenak, kita menoleh kebelakang, disana ada negeri yang pernah ramai oleh para penuntut ilmu. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy Syafi’I, Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Bukhari dan muridnya Imam Muslim adalah diantara nama-nama yang terkenal di masa bangkitnya para pemuda untuk menuntut ilmu agama dan nama-nama itu akan terus dikenang sepanjang masa. Kenapa muncul nama-nama ulama tersebut dalam sejarah? Terus kenapa kita tidak tercatat dalam sejarah? Jawaban yang paling tepat adalah karena belum apa-apa kita sudah berkata mustahil.
Seorang panglima romawi yang bernama Napoleon Boneoparte pernah ditanya; bagaimana anda bisa menanamkan jiwa kesatria dalam jiwa pasukan anda? Ia menjawab; saya senantiasa memberikan tiga solusi atas tiga masalah yang dilontarkan kepadaku, jika ada yang berkata; aku tidak mampu, kukatakan padanya; berusahalah. Jika ada yang berkata; saya tidak tahu, kukatakan padanya; belajarlah, dan jika ada yang berkata; mustahil, kukatakan padanya; cobalah.
Jadi, inilah tradisi orang sukses. Tidak ada kata mustahil dalam diary mereka. So, jadilah remaja yang berani berkata “aku bisa insyaAllah”. Karena setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ditanamnya. hanyalah keberhasilan itu berpihak pada orang yang berani mengetuk pintu. Promise!