Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Februari 2010

Valentine's Day Hari Raya Mengenang Pendeta

Valentine’s Day atau biasa disebut hari kasih sayang, adalah saat-saat yang dianggap paling tepat oleh remaja, bahkan yang telah dewasa sekalipun untuk mengungkapkan cinta kepada pasangannya. Mulai dari memberikan hadiah berupa bunga, boneka, coklat, kirim kartu, dan sebagainya. Tak jarang, kehormatan pun dihadiahkan sebagai tanda cinta.




Tertipu Gemerlap Valentine’s Day
Keyakinan bahwa Valentine adalah hari kasih sayang mengundang tanya. Jika memang seperti itu, mengapa targetnya adalah anak-anak muda, bukan ibu-bapak kita, kakek-nenek kita? Jawabannya, karena merusak generasi yang bakal menjadi penerus peradaban alias pemuda jauh lebih strategis. Kalau pemudanya rusak, maka lebih mudah merusak sendi lainnya.

Jika benar mereka—baca Barat—yang suka menjajakan Valentine itu memang menjunjung kasih sayang, tanyakan buktinya. Angka perceraian tinggi, anak-anak mereka rusak karena brokenhome, prostitusi merajalela bahkan disahkan oleh negara, aborsi pun legal, orang tua diterlantarkan di panti jompo, diskriminasi ras dan warna kulit, dan lain-lain. Inikah kasih sayang yang bisa dicontohkan oleh mereka?

Sekarang tengok ke Timur. Irak hancur lebur. Muslimahnya jadi korban perkosaan para tentara Barat. Anak-anak kecil dan orangtua serta warga sipil dibantai tanpa ampun. Negerinya dijajah dan porak-poranda. Belum lagi Afghanistan, Bosnia, Chechnya, bahkan Indonesia. Semuanya dijajah. Bila tidak secara fisik, pastilah secara ekonomi dengan hutang yang diwariskan pada anak cucu kita. Secara budaya, salah satunya adalah memaksakan perayaan Valentine ini ke generasi muda kita melalui media yang begitu gencar menjajakan ritual ini.

Valentine itu hanya sebuah momen bagi para kapitalis yang mata duitan untuk menangguk untung sebanyak-banyaknya. Coklat, boneka, dan bunga jadi laris manis. Begitu juga dengan kartu-kartu dan berbagai pernak-pernik Valentine’s Day lainnya.

Valentine, Merusak Generasi
Didorong oleh media, baik elektronik maupun cetak yang seolah dikomando oleh pihak tertentu menggaungkan acara ini, remaja kita pun menjadi malu dan minder, merasa ketinggalan jaman jika tidak turut merayakan Valentine.

Valentine’s day, sebetulnya bukan mengagung-agungkan cinta dan kasih sayang, tapi lebih ke arah mengumbar hawa nafsu, agar nafsu itu bangkit dan liar tanpa kendali.
Tahun 2004 lalu, puncak acara Valentine’s Day di Filipina ditandai dengan mencetak rekor dunia “ciuman massal”. Tidak kurang 5.122 pasangan antri di Manila, ibu kota negara itu, untuk berciuman selama paling tidak 10 detik guna merayakan Valentine. Bayangkan, jika hal ini terjadi di negara kita. Na’udzu billah min dzalik!

Ini baru dosa-dosa Valentine ditinjau dari dampak maksiat yang terjadi di dalamnya. Belum lagi kalau kita melihat asal-usul Valentine.

Latar Belakang Valentine's Day
Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentin's Day ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang bernama Saint (Santo) Valentine, seorang yang dianggap suci oleh kalangan Kristen, yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada tanggal 14 Februari 269 M., pada hari yang sama saat dia mengungkapkan ucapan cintanya. Dalam legenda yang lain disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan selamat tinggal kepada seorang gadis anak sipir penjara yang menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda tangan yang berbunyi From Your Valentine.

Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Nyatanya, banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide "gila". Pikirannya, jika laki-laki tidak kawin, mereka akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengizinkan laki-laki kawin.

Kalangan remaja menganggap, ini adalah hukum biadab. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta, dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan, setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan menyenangkan. Bayangkan, dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri. Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Banyak yang datang mengunjunginya dalam penjara. Salah satu pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil: Love from your Valentine. Dan pada tahun 496 Paus Gelasius menyeting 14 Februari sebagai tanggal penghormatan untuk Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Februari menjadi tanggal saling menukar pesan kasih, dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah. Bahkan, sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.

Valentine’s Day Merusak Akidah
Dari paparan di atas kita tahu bahwa kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam. Celakanya, remaja-remaja Muslim ikut larut dan merayakannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh, kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai, jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun mengikuti mereka.” Kami bertanya, “ Wahai Rasulullah! Apakah yang Anda maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Hari raya termasuk karakteristik yang menjadi ciri khas umat. Turut dalam perayaan hari raya agama lain adalah bentuk penyerupaan yang paling nyata terhadap agama tersebut.
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka. Demikian pula, dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap rakaat shalatnya membaca, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, sementara ia sendiri justru menempuh jalan sesat itu dengan sukarela?

Valentine's Day merupakan ungkapan kasih yang bukan bagian dari agama kita, juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif, dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Meniru perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas, inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.

Sekadar Ikut Merayakan
“Bolehkan, sekadar ikut merayakan saja, tanpa meyakini bahwa ini adalah hari raya orang Nasrani? Bukankah ini hari kasih sayang sedunia yang sifatnya universal?” Mungkin sebagian dari kita berdalih demikian. Tapi bagi kaum mus-limin, kita sudah diingatkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala melalui firman-Nya, artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al Isra’: 36).

Inilah uniknya Islam. Tidak ada yang namanya sekadar ikut-ikutan. Sebelum melakukan suatu perbuatan, sebagai muslim, kita harus paham apa dan bagaimana Islam menyikapinya. Ini mendidik kita, agar tidak menjadi generasi pembebek. Generasi yang bisanya cuma ikut-ikutan tanpa tahu ilmunya. Islam mengajak kita untuk cerdas dalam menyikapi sesuatu.

Banyak orang berdalih untuk membenarkan dirinya sendiri ketika ia turut larut dalam perayaan ini. Namun, tidak ada kata “sekadar” dalam kehidupan seorang muslim. Itu karena tiap perbuatan meskipun itu sebesar debu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Aneh, jika setelah tahu hakekat asli wajah buruk di balik Valentine, mayarakat kita, khususnya remaja masih suka-cita menyambut-nya!

Maka menjadi tanggung jawab orangtua untuk mengawasi dan melarang anak mereka untuk turut berpartisipasi dalam ritual ini. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta dan Kasih Sayang dalam Islam
Kurang cerdas, jika kaum Muslimin dan secara khusus kalangan remajanya ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal, dan religius dengan mereka. Keikutsertaan remaja Muslim dalam "hura-hura" ini merupakan refleksi sebuah kekalahan dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya, “Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih kepada sesama?”
Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta kepada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus, dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian, Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan.

Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka, seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri. Kasih sayang dalam Islam bersifat Universal. Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia juga tidak dibatasi oleh objek dan motif. Kasih sayang diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahmi, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditinpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari perbuatan tercela. Inilah Islam, dan setiap Muslim hendaknya merasa bangga dengan agamanya dan tak perlu latah mengikuti ajaran agama lain. Wallahu Waliyyut Taufi

(Al Fikrah Edisi No.05 Tahun XI/27 Safar 1431 H)




Kamis, 02 Juli 2009

Musuh Menyerang Pondasi Umat Islam

Kamu kecurian!, mendengar teriakan itu, akhirnya Aslam tersadar dari kelalaiannya. Dompetnya raib ditangan pencopet. “Yah, apa boleh buat harta bisa dicari tapi iman hanya bisa diraih dengan hidayah Ilahi gumamnya dalam hati.”
Saudaraku, Manusia takkan bisa membohongi nafsunya sendiri untuk tidak tergiur dengan sesuatu yang sangat berharga nan menyilaukan mata. Pencuri yang profesional pun akan berpikir keras untuk meraihnya dari sang pemilik, apa pun caranya.

Demikianlah halnya musuh Islam melihat bahwa harta termahal dari umat Islam adalah rukun iman. Dengan menghalalkan berbagai cara musuh berusaha mencuriya dari hati kaum muslimin. Kalau yang lumrahnya, pencuri mati hanya untuk memiliki harta tersebut, maka pencuri iman lebih sadis lagi kawan. Bukan cuma mati-matian doank bahkan untuk dicopot dan dihancurkan.
Selama ini musuh melihat bahwa yang menyatukan kaum muslimin adalah kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammadarrasulullah. Untuk itu, mereka menjadikannya sebagai agenda kerja hariannya. Mereka akan menghilangkan semua konsekuensi dari kalimat tersebut dengan menyebarkan syubhat dan pemahaman sesat. Bisa diprediksikan mereka akan mengingkari rukun iman dan rukun Islam, yang merupakan pondasi dalam Islam.
1.Mengingkari Rukun Iman
Saudaraku, dalam pembahasan ini penulis akan mengajak kamu untuk mengenal gembong aliran sesat. Kebencian mereka terhadap Islam telah nampak dengan usaha mereka untuk memasukkan pemahaman sesat tersebut dalam cabang ilmu Islam yang disebut dengan ilmu manthiq(logika) mereka ingin menyamakannya dengan ilmu arudh dalam sastra arab. Yaitu ilmu yang mempelajari timbangan dalam syair. Betapa pun usaha musuh untuk menutupi kebusukannya cepat atau lambat akan terungkap juga. Yakinlah kamu bisa mendeteksi rudal syubhat dengan radar ilmu agama yang benar.
Simaklah kedustaan-kedustaan mereka dalam masalah iman. Menurut mereka bukanlah seorang filosof yang masih beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kita-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kiamat, serta berpegang dengan syariat Islam. mereka beranggapan bahwa orang yang masih percaya kepada rukun iman dalam Islam adalah orang yang bodoh. yah, Mereka ingin mengacaukan umat dengan menggunakan kebohongan agama.
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa orang yang pertama kali berpendapat tentang keazalian alam (imajinasi/khayal semata) adalah Aristoteles. Aristoteles adalah seorang musyrik yang menyembah berhala. Dalam masalah ketuhanan ia memiliki pandangan yang seluruhnya keliru. dialah yang pertama kali meletakkan ilmu logika. Pengaruh paham ini sangat besar hingga meracuni pemikiran para filosof Islam. kota baghdad di iraq dikenal sebagai tempat munculnya filosof arab yang mengembangkan pemahaman sesat Aristoteles. Para ulama Ahlussunnah pun tidak tinggal diam dengan kesesatan mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama lainnya telah membantah pemahaman-pemahaman keliru Aristoteles lewat buku-bukunya.
Para pengikut paham aristoteles seperti Abu Nashr al-farabi, Ibnu Sina, an-Nashir at-Thusi berikut sekte-sektenya telah mengingkari rukun Iman. Berikut kami paparkan akidah-akidah mereka;
1.pemahaman mereka tentang Allah Subhanahu Wata’ala;
“jika Allah itu mengetahui hal-hal yang maujud(ada), maka tentu Dia akan merasakan kelelahan dan keletihan serta akan menjadi sempurna lantaran adanya pihak lain selain diri-Nya”.(perkataan Aristoteles).
Pengikut paham ini menyatakan bahwa Allah adalah wujud mutlak yang tidak mempunyai sifat, tidak berbuat apa-apa, tidak pernah menciptakan langit dan bumi karena ketidakadaannya, tidak mempunyai kekuasaan untuk melakukan sesuatu serta tidak mengetahui apa-apa. Jadi, mereka pada hakikatnya tidak percaya dengan adanya permulaan dan hari akhir(pembalasan), tidak beriman kepada Tuhan sang pencipta.
2. pemahaman mereka tentang keimanan kepada para malaikat.
Mereka tidak mengenal malaikat dan tidak beriman kepadanya. Menurut mereka, malaikat itu adalah sesuatu yang digambarkan oleh Nabi-menurut anggapan mereka-pada dirinya berupa bentuk-bentuk pencahayaan. Malaikat adalah akal pikiran, menurut mereka. Malaikat adalah sesuatu yang terpisah, yang tidak di alam dan tidak pula di luarnya; tidak di atas langit dan tidak pula di bawahnya; tidak merupakan individu-individu yang bergerak; tidak naik dan tidak turun; tidak mengatur sesuatu; tidak berbicara; tidak mencatat amalan-amalan hamba; tidak mempunyai sensitifitas dan gerak sama sekali; tidak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain; tidak akan dibariskan di sisi Rabbnya; tidak mengerjakan shalat; tidak punya andil sama sekali dalam mengurus alam; tidak memegang jiwa hamba; tidak pula mencatat rezekinya, ajalnya dan amalnya; serta tidak mengawasi hamba dari sebelah kanan maupun kiri. Kesimpulannya mereka menganggap bahwa malaikat sama sekali tidak mempunyai hakikat.
3. mengenai kitab, menurut mereka, Allah itu tidak punya firman yang diturunkan ke bumi dengan perantara malaikat; Dia tidak pernah memfirmankan sesuatu, tidak akan berfirman, dan memang tidak boleh berfirman.
4. mengenai rasul dan nabi, mereka berpendapat bahwa kenabian itu mempunyai tiga kerakteristik; barang siapa yang memiliki tiga kerakteristik tersebut secara sempurna, maka dia adalah nabi. Jadi menurut mereka, kenabian itu merupakan salah satu dari bentuk pekerjaan(upaya) yang bisa didapatkan.
5. tentang masalah keimanan kepada hari akhir, mereka tidak mengakui terbelahnya langit, bertabrakannya bintang-bintang(planet), dan bangkitnya manusia yang sudah mati di alam kubur. Mereka juga tidak mengakui bahwa Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan yang telah menjadikan alam ini setelah sebelumnya tidak ada.
Jadi menurut mereka, tidak ada permulaan; tidak ada hari pembalasan; tidak ada pencipta; tidak ada kenabian; tidak ada kitab-kitab yang turun dari langit sebagai firman-firman Allah; dan juga tidak ada malaikat yang turun membawa wahyu dari Allah Ta’ala.
Sungguh agama kaum yahudi dan nashrani setelah dirombak dan diganti pun masih lebih baik ketimbang agama mereka. Kaum musyrikin yang menyembah berhala juga maih lebih baik dari mereka karena kaum musyrikin menetapkan adanya Tuhan sebagai pencipta yang maha mengetahui, maha kuasa dan maha hidup. Cukuplah sebagai suatu ketololan, kesesatan dan kebutaan bila harus berjalan di belakang mereka atau sampai berbaik sangka kepada mereka serta menganggap mereka sebagai manusia berakal.
Para pendahulu mereka yaitu fir’aun telah cukup menjadi pelajaran penting bagi orang-orang beriman dan sebagai peringatan bagi musuh-musuh Allah bahwa Allah akan menimpakan adzabNya dengan memusnahkan kaum yang mengingkari keberadaan-Nya sebagai pencipta yang Esa dengan nama-nama dan sifat-sifatNya yang mulia lagi sempurna.
Dengan wajah baru, para musuh mengemas syubhat-syubhatnya sesuai perkembangan zaman. Versi dan tipe baru dijajakan di muka publik tinggal siapa yang kan terjerat dan jadi korban. Diantara mereka ada yang berusaha melakukan studi perbadingan agama, studi ini terus berkembang hingga dibukalah program studi “perbandingan agama” di beberapa kampus dan universitas. Mereka berusaha menyamakan antara dua hal yang sangat berbeda sungguh suatu hal yang mustahil. Diantaranya, musuh ingin menyamakan antara agama nashrani dan Islam bahwa keduanya merupakan agama samawy(langit) yang menginginkan kebaikan hidup dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Keduanya dibawa oleh keturunan Ibrahim-keselamatan baginya- dan persamaan-persamaan yang sengaja dimunculkan ke permukaan untuk menggoyahkan iman kaum muslimin sehingga keberadaan mereka diterima dan diakui sebagai bagian dari Islam. selain itu, Buku-buku logika yang menuhankan akal juga banyak dicetak untuk dikonsumsi oleh umat Islam. sesat dan membingungkan tapi itulah yang ilmiah menurut mereka.
Kamu-kamu yang di sekolah jangan pernah merasa aman. Teori darwin, siapa yang tak kenal dengan Charles Darwin tokoh yang memperkenalkan teorinya bahwa manusia berasal dari evolusi kera. Kamu-kamu yang doyan menu biologi pasti pernah dikejutkan dengan teori itu? Atau kamu setuju dengannya? Orang awam saja tidak mau dibilangin moyangnya kera apalagi remaja muslim mesti protes dong! Yang namanya manusia tentu saja keturunan Nabi Adam dan istrinya Hawa. Moyang kita seorang yang mulia. Nah disinilah musuh membidik iman kamu.

Rabu, 24 Juni 2009

SYI'AH ROFIDHOH

Syi’ah dan Mut’ah

Nikah mut’ah dalam ajaran syi’ah adalah nikah kontrak dalam waktu tertentu. Beberapa tahun, bulan, minggu atau bahkan beberapa jam saja. Terserah pada kesepakatan calon ‘mempelai’. Nikah mut’ah ini tidak ada bedanya dengan zina selain karena adanya kontrak waktu, juga tidak disyaratkan adanya saksi dan wa

Pembaca yang baik, edisi kali ini kembali mengangkat salah satu sisi paling mencolok yang membedakan kita Ahlussunnah dengan Syi’ah Rafidhah mengingat banyak kaum Muslimin yang tidak tahu hakikat syi’ah.

Mut’ah memiliki keistimewaan yang besar di dalam aqidah Syi’ah Rafidhah, dikatakan dalam buku “Manhajus Shadiqin” yang ditulis oleh Fathullah Al Kasyani, dari Ash Shadiq bahwasanya mut’ah adalah bagian dari agamaku, dan agama nenek moyangku, dan barang siapa yang mengamalkannya berarti ia mengamalkan agama kami, dan barang siapa yang mengingkarinya berarti ia mengingkari agama kami, bahkan ia bisa dianggap beragama dengan selain agama kami, dan anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan mut’ah lebih utama dari pada anak yang dilahirkan di luar nikah mut’ah, dan orang yang mengingkari nikah mut’ah ia kafir dan murtad.

Dinukil oleh Al-Qummy dalam bukunya “Maa laa Yudhrikuhul Faqih, dari Abdillah bin Sinan dari Abi Abdillah ia berkata “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala mengharamkan atas orang-orang syi’ah segala minuman yang memabukkan, dan menggantikan bagi mereka dengan mut’ah.”

Syi’ah Rafidhah tidak membatasi jumlah tertentu dalam mut’ah, dikatakan dalam buku “Furu’ul Kaafi”, Ath-Thahdib, dan Al-Istibshar, dari Zurarah dari Abi Abdillah ia berkata, “Saya bertanya kepadanya tentang jumlah wanita yang dimut’ah, apakah hanya empat wanita? ia menjawab nikahilah (dengan mut’ah) dari wanita, meskipun itu 1000 (seribu) wanita, karena mereka (wanita-wanita ini) dikontrak.”
Orang Rafidhah tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan mereka memperbolehkan mendatangi wanita (istri) dari duburnya (menyetubuhi istri dari jalan belakangnya).

Disebutkan dalam buku Al-Istibshar yang diriwayatkan dari Ali bin Al-Hakam, ia berkata, “Saya pernah mendengar Shafwan berkata” saya berkata kepada Ar-Ridha, “Seorang budak memperintah saya untuk bertanya kepadamu tentang suatu masalah yang mana ia malu menanyakan langsung kepadamu”, maka ia berkata, “Apa masalah itu?”, ia menjawab, “Bolehkah seorang laki-laki menyetubuhi istrinya dari duburnya”, maka ia menjawab, “Ya, boleh baginya”.

Bagaimana kita bisa menerima dan membenarkan nikah seperti ini, sementara Allah Subhanahu Wata'ala berfirman,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka, atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela, barang siapa yang mencari dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” (QS.Al-Mu’minun : 5-7).

Pembaca budiman, inilah salah satu ajaran syiah yang bertentangan secara nyata bertentangan dengan ajaran ahlussunnah wal jama’ah

Kisah Nyata Tentang Mut’ah
Syaikh Dr. Abdul Mun’im an-Nimr dalam salah satu risalahnya bercerita tentang teman beliau yang seorang guru besar sastra Persi. Sang guru besar bertutur pada beliau,”Saya berkunjung ke Teheran saya siapkan makalahku tentang sastra Persia. Selama saya di sana saya menyempatkan waktu untuk mencari informasi tentang nikah mut’ah, bukan untuk bermut’ah tapi saya ingin menyelidiki. Setelah saya bertanya tentang tempat-tempat mut’ah, maka saya pun menuju ke salah satu tempat tersebut. Sesampai di sana, seorang syaikh menyambutku dengan ucapan selamat datang. ”Saya ingin bermut’ah” kataku membuka pembicaraan. ”Kalau ia cantik dan menarik saya ingin mut’ah dalam waktu yang lama” kataku melanjutkan. Maka saya oleh syaikh tersebut dipersilahkan masuk ke salah satu ruangan. Lalu laki-laki paru baya tersebut memerintahkan kepada beberapa orang perempuan melintas di depanku dengan memperlihatkan seluruh kecantikannya untuk saya pilih. Karena hanya ingin menyelidik, sayapun lalu minta maaf dengan ramah karena tak satu pun yang menarik hatiku.

Saya lalu pergi ke tempat lain guna melanjutkan penyelidikan di salah satu kafe. Kali ini saya melangkah lebih jauh. Setelah saya memilih satu wanita, kami lalu duduk bersama. Wanita itu lalu bertanya padaku tentang lama waktu mut’ah yang saya inginkan sebab setiap jam beda upahnya. Wanita itu juga bertanya tentang tempat yang saya inginkan untuk ’berbulan madu’ apakah di penginapanku atau di rumahnya. ”Upahnya berbeda-beda sesuai fasilitas yang ada di tempat yang telah disepakati” kata wanita itu. Saya berpura-pura tidak setuju dan marah-marah, lalu pergi sambil minta maaf kepada pemilik kafe.
Sebelum pergi, saya menyempatkan diri pada pemilik kafe tentang tanggapan penduduk sekitar tantang keberadaan kafe-kafe yang memiliki ’pelayanan plus’. Pemilik kafe dengan berterus terang mengatakan bahwa penduduk merasa terusik dengan keberadaan tempat tersebut.

Di lain waktu (juga dalam rangka penyelidikan) saya pernah bercanda pada salah seorang kerabatku keturunan persia di Teheran. Saya memintanya untuk menikahkan putrinya denganku secara mut’ah. Kerabatku itu marah besar dan memutus tali silaturrahimya denganku”.
Demikian tutur Dr Abdul Mun’im an-Namr salah seorang akademisi yang banyak menulis masalah -masalah syi’ah.

Mut’ah dan AIDS
Empat tahun terakhir di Irak, sejak AS menginvasi negeri 1001 malam itu, terjadi peningkatan tajam penderita AIDS, yang paling parah dibanding masa-masa sebelumnya.

Tahun 2003, jumlah penderita positif HIV mencapai 265 orang dan sebagian besar meninggal dunia. Dalam penelitian disimpulkan, 80 orang dari jumlah tersebut, tertular virus HIV melalui transfusi darah yang diperoleh dari luar Irak sebelum tahun 1986. Tapi pada tahun-tahun belakangan ini, penyebaran virus HIV mengalami perubahan di Irak. Melalui sejumlah penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa virus HIV di Irak menyebar melalui hubungan dengan lawan jenis secara intensif, melebihi apa yang biasa dilakukan seorang pelacur.

Sebuah lembaga penelitian Irak yang khusus memantau perkembangan penyakit seksual di antara warga Irak di kota Nejef, Karbala, Wasith, Qadisiya, Maisan, Dzi Qar, Bashra, Matsana, dan Baghdad, baru baru ini mengeluarkan sejumlah hasil penelitiannya. Mereka menemukan beberapa tahun terakhir terjadi trend pernikahan mut’ah di banyak keluarga Irak yang berada di bawah garis kemiskinan. Kaum wanita yang menjadi pelaku nikah mut’ah inilah yang menurut penelitian, menjadi salah satu sarana perpindahan virus HIV ke manusia lain. Sementara si wanita tidak sadar bila dirinya membawa virus HIV.

Satu dari dua penderita AIDS di Irak adalah pelaku nikah mut’ah. Menurut perkiraan dokter, di sejumlah distrik yang dihuni mayoritas oleh kaum Syiah, terjadi kasus penderita penyakit AIDS lebih dari 75 ribu kasus per tahunnya. Kajian yang dilakukan juga memunculkan kesimpulan adanya sejumlah besar para penderita AIDS yang belum merujuk ke dokter karena alasan sosial. Jumlah penderita AIDS di Irak merupakan jumlah yang paling besar dari berbagai negara Eropa dan Arab, setelah Iran. Dan pernikahan mut’ah menjadi sebab utama yang paling banyak menularkan virus HIV melalui hubungan seksual.

Sejak tumbangnya pemerintahan Irak pimpinan Saddam Husein tahun 2003, secara tidak resmi terjadi arus pernikahan mut’ah yang luar biasa di Irak. Nikah mut’ah di Irak bahkan dilakukan dalam tempo sangat singkat, yakni satu kali hubungan badan lalu berpisah. Karena itulah sebagian kaum pria dan wanita terlibat hubungan seksual melalui pernikahan mut’ah beberapa kali, bahkan dalam satu hari.
Dan kini, menurut Kementerian Kesehatan Irak, selama tiga tahun terakhir, terjadi 64.428 kasus penderita AIDS di Irak. Para tokoh agama dan pejabat pemerintah saat ini melakukan upaya intensif untuk menekan trend nikah mut’ah yang menjadi indikator hilangnya pertimbangan logika, kesehatan, etika dan moralitas warga Irak.

Para pembaca budiman, inilah fakta nyata jika kemaksiatan yang bernama zina dilegalkan atas alasan apapun, termasuk dengan mengemasnya dengan nama ‘nikah mut’ah
(Al Fikrah)