Social Icons

Pages

Minggu, 01 November 2009

Wahdah Gelar Silaturahmi Dai Nasional

Sebanyak 300 Dai Wahdah Islamiyah dari seluruh Cabang dan Daerah Binaan (Dabin) berkumpul di Makassar mengikuti Silaturahmi Nasional (Silatnas) Dai dan Murabbi (Pembina), di lantai 2 Masjid Darul Hikmah Kantor DPP WI, Jl.Antang Raya No.48.



Silatnas ini merupakan rangkaian acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) VI WI. Peserta yang ikut dalam acara ini tergabung dalam Korps Da’i dan Murabbi (KDM) pada masing-masing Cabang Wahdah, sebagian besar diantaranya merupakan Para Dai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (Stiba) Wahdah dan Alumni Tadribud Duat (Pendidikan Dai) yang telah disebar ke berbagai daerah.

Menurut Ketua Departemen Pengembangan Daerah (DPD) WI Ust.Iskandar Kato bahwa selain sebagai ajang silaturahmi para Dai, diharapkan acara ini dapat memberikan penyegaran, Penguatan serta persamaan persepsi Dai dalam Dakwah pembinaan. Dan yang lebih penting lagi menurut penanggung jawab acara ini, bahwa silatnas ini sebagai tempat sharing dalam masalah problematika dakwah dan solusinya serta strategi percepatan pencapaian visi 2015. Ada empat materi yang diberikan dalam acara ini, Materi terakhir tentang Problem Solving Dakwah diisi khusus oleh Ketua Umum DPP, Ust.Muhammmad Zaitun Rasmin, Lc

Sebelum acara silatnas, Kamis, 29 Oktober 2009 digelar juga Daurah Qadah (Daurah Kepemimpinan) bagi para pimpinan Cabang dan Dabin. Daurah Qada ini dalam rangka peningkatan dari sisi manajerial kelembagaaan dan perencanaan SDM di daerah masing-masing yang merupakan variable pencapaian visi misi.


REKOMENDASI MUKERNAS VI WAHDAH ISLAMIYAH

LAMPIRAN KETETAPAN MUKTAMAR VI WAHDAH ISLAMIYAH

NOMOR : 009/TAP/MUKERNAS VI – WI/1430

REKOMENDASI MUKERNAS VI WAHDAH ISLAMIYAH




1. Menyikapi berbagai fenomena musibah yang tak kunjung hentinya menimpa bangsa Indonesia yang disebabkan oleh menyebarnya berbagai macam kedurhakaan kepada Allah Azza wa Jalla berupa kesyirikan, penentangan kepada syari’at Allah dan sunnah Rasulullah saw, serta berbagai kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan ataupun tersembunyi, maka Mukernas VI menyerukan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia untuk segera bertaubat kepada Allah SWT. dan menghimbau pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dalam menindak pelaku berbagai bentuk kejahatan dan kemungkaran yang dapat mengakibatkan kehancuran masa depan bangsa dan datangnya bala bencana yang lebih dahsyat dari Allah SWT.



2. Menghimbau kepada pemerintah agar memberikan otoritas yang lebih luas kepada para ulama dalam mengatur urusan agama Islam di Indonesia. Menjadikan fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia sebagai referensi dalam membuat kebijakan Negara.

3. Menghimbau pada pemerintah agar sungguh-sungguh melarang dan mengambil tindakan tegas kepada semua aliran agama yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan masyarakat Muslim Indonesia yang beraqidah Ahlussunnah waljamaah, seperti Syiah, Ahmadiyah, Islam jamaah dan berbagai paham lainnya yang bertentangan dengan aqidah Islam.

4. Meminta kepada Meneg Kominfo yang baru agar secara serius dan bertahap menutup semua situs-situs porno yang merusak moral generasi muda bangsa.

5. Menghimbau kepada Kepolisian Republik Indonesia dan aparat hukum lainnya untuk dapat meningkatkan pemberantasan narkoba dengan menangkap dan menghukum seberat-beratnya pembuat, pengedar dan pemakainya, dan kepada pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Badan Narkotika Nasional bersama Departemen dan lembaga terkait secara besama-sama dapat menemukan solusi yang tepat guna pencegahan dan pengawasan pengedaran dan penggunaan narkoba.

6. Mengutuk keras agresi Israel ke Palestina dan memprotes keras kebijakan Amerika Serikat yang diskriminatif terhadap bangsa-bangsa Timur Tengah, menyerukan kepada negara-negara Islam (OKI) dan umat Islam sedunia untuk melakukan tekanan kepada Israel dan Amerika Serikat, termasuk tekanan terhadap PBB yang mandul dan tidak dapat melaksanakan perannya sebagai Badan Dunia menyangkut kebijakan dan sikap terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di negara-negara Islam terutama di kawasan Timur Tengah.

7. Mendorong pemerintah untuk melakukan regulasi terhadap kebijakan ekonomi untuk membangun ekonomi Islam dalam seluruh institusi ekonomi Islam seperti; perbankan, pegadaian, koperasi syariah, asuransi, dll. Begitu pula menghimbau kepada ummat Islam untuk mendukung gerakan ekonomi Islam dalam rangka menjauhkan diri dari sistem ekonomi ribawi

8. Meminta ketegasan kepada pihak pemerintah untuk memberantas tindak pidana korupsi dengan memberdayakan lembaga-lembaga pemberantasan korupsi secara maksimal dan konsisten.

Ditetapkan di Makassar, 13 Dzulqa’dah 1430H

01 November 2009M

PIMPINAN SIDANG PLENO

TENTANG REKOMENDASI




H. RAHMAT ABDURRAHMAN, LC IR. H. IDRIS PARAKKASI, MM
Ketua Sektretaris

Wahdah Islamiyah Tetap Konsisten di Jalur Dakwah dan Tarbiyah

(Klarifikasi Wahdah Islamiyah Terhadap Pemberitaan di Harian Tribun/Ahad/1/11/09)


Tentang pemberitaan Harian Tribun, yang mengutip pernyataan Ketua Umum Wahdah Islamiyah, (WI), Ust. Muh. Zaitun Rasmin, Lc Harian Tribun/Ahad/1/11/09 yang mengatakan bahwa WI siap membentuk partai politik sama sekali tidak benar. Di depan seluruh peserta Mukernas WI VI, Ust. Zaitun menegaskan, bahwa WI sebagai sebuah ormas Islam tetap fokus dan konsisten dalam dakwah dan pembinaan umat, serta tidak akan terjun atau terlibat di jalur politik praktis, apalagi mendirikan partai politik.


Saat ini, WI juga fokus untuk mencapai visi 2015, yakni menjadi ormas Islam yang eksis diseluruh ibukota propinsi di seluruh Indonesia, yang ditandai dengan terbentuknya Dewan Pimpinan Cabang (DPC), serta memiliki 100 pesantren tahfidz di seluruh Indonesia.

Ke depan, WI akan bekerja keras agar visi misi tercapai, apalagi saai ini tantangan dakwah kian berat. Sehingga, kerja keras, dan kerjasama dengan seluruh komponen masyarakat, pemerintah, serta ormas Islam lainnya, amat diperlukan WI berharap dengan tercapainya visi misi tersebut dapat mewujudkan umat yang rahmatan lil alamin yang bermartabat.

Selasa, 27 Oktober 2009

BERCITA-CITA

“ Barangsiapa mati sedangkan ia belum pernah berjihad, dan ia tidak bercita-cita untuk berjihad, maka kematiannya pada salah satu cabang kemunafikan “ ( H.R. Muslim ).


BERMIMPILAH!
Suatu hari Umar bin Khattab melukakan dialog dengan beberapa orang di zamannya. Umar bin Khattab berkata : “Bercita-citalah!” Maka salah seorang di antara yang hadir berkata :” Saya berangan-angan kalau saja saya mempunyai banyak uang ( dinar dan dirham ), lalu saya belanjakan untuk memerdekakan budak dalam rangka meraih ridha Allah.”

Seorang lainnya menyahut : “Kalau saya, berangan-angan memiliki banyak harta, lalu saya belanjakan fi sabilillah.” Yang lainnya menyahut : “Kalau saya mengangankan kekuatan tubuh yang prima lalu saya abdikan diri saya untuk memberi air zam-zam kepada jama’ah haji satu persatu.”

Setelah Umar bin Khattab mendengarkan mereka, ia pun berkata : “Kalau saya, berangan-angan kalau saja di dalam rumah ini ada tokoh seperti Abu Ubaidan bin Jarrah, Umair bin Sa’ad dan semacamnya.”

Mungkin Anda bertanya mengapa harus bermimpi? Ternyata banyak orang-orang besar ataupun pemimpin besar yang berangkat dari seorang pemimpi. Jadilah pemimpi besar untuk menjadi pemimpin besar. Seorang tokoh pernah mengatakan, seorang pemimpin harus mempunyai banyak mimpi, jika tidak dia tidak layak menjadi pemimpin.

Kalau untuk bermimpi saja tidak berani, maka bagaimana ia berani memimpin? Karena menjadi pemimpin berarti menjadi orang yang cerdas. Yakni berpikir mendahului masanya, meski kadang orang lain belum bisa memahaminya. Ia juga obsesif. Memiliki pikiran dan gagasan besar di luar apa yang dipikirkan orang lain.
Maka, jangan takut bermimpi!

FILOSOFI CITA – CITA…
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa “Keluhuran cita-cita adalah bagian dari keimanan”. Karena orang yang punya cita-cita mulia, obsesi yang tinggi, tujuan luhur, tentunya dia tidak akan menjerumuskan diri dalam kehinaan, dari kemaksiatan, dan kemistaan. Karena itulah bermimpilah dan bercita-citalah setingi bintang. Cita-cita besar adalah tanda kehidupan jiwa, indikasi sukses orang-orang besar. Pintu kebahagiaan siapa saja disebabkan oleh jiwanya selalu terbuka, berpikir dan berjiwa besar.

“Kalau anda percaya bisa berhasil, anda akan betul-betul berhasil.” Demikian kata D.J.Schwartz dalam bukunya The Magic of Thinking Big. “Setiap manusia yang menghasratkan sukses atau menginginkan yang sebaik-baiknya dari kehidupan sekarang ini. Tak ada manusia bisa mendapat kesuksesan dari hidup yang merangkak-rangkak, kehidupan yang setengah-setengah. Tak ada yang ingin merasa dia itu termasuk kelas dua atau terpaksa hidup sebagai “kelas dua” ( D.J.Schwartz, 1978 )

Cita-cita besar itu ibarat dinamo. Cita-cita besar itu ibarat dinamo yang menggerakkan arus positif dan arus negatif yang mengontrol tubuh Anda. Cita-cita besar itu ibarat bahan bakar. Memacu kendaraan untuk maju, melesatkan kereta dengan cepat.

Cita-cita besar itu adalah pintu. Pintu kebahagiaan, pintu kesuksesan, pintu kesempurnaan. “Dan katakanlah:”Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah ( pula ) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi engkau kekuasaan yang menolong.” ( Al-Isra’:80 )

Cita-cita besar itu merupakan obat. Obat penghilang kelemahan, penghilang kemalasan, penghilang kesedihan, penghilang kehinaan.

Cita-cita ciri kemuliaan. Orang mulia adalah orang yang memiliki cita-cita. Karena cita-cita akan membangun pendirian yang kokoh, tidak gentar menghadapi masalah, tidak jera menghadapi kegagalan. Sedangkan orang yang tidak memiliki cita-cita akan menjadi pengecut, penakut dan pecundang. Diantara manifestasi cita nan mulia adalah membangun keluhuran jiwa dan menjauhkan diri dari posisi tertuduh.

Begitu banyak dan begitu penting untuk menjadi besar dengan cita-cita besar. Tapi jangan sekali-kali merasa besar. Karena merasa besar akan menumbuhkan penyakit jiwa, menyebabkan sengsara dan pembawa derita. Sedang menjadi besar membawa bahagia.

JANGAN TAKUT PUNYA CITA-CITA
Kadang kita takut punya cita-cita, karena takut untuk mencapainya. Padahal cita-cita merupakan energi yang akan menggerakkan jiwa, menggerakkan pikiran untuk kreatif, menggerakkan badan untuk aktif, menggerakkan seluruh tubuh mencapai tujuan. Cita-cita adalah ruh yang menjadikan seseorang tetap bertahan. Seperti Imam Ahmad yang tegar di tengah cambukan tanpa menggeserkan sedikitpun keimanan dan keyakinan yang tertanam. Cita-cita pula yang menghadirkan cinta dan kasih sayang ibu terhadap anaknya, melumurinya dengan doa, menghiasinya dengan tarbiyah. Seperti pengorbanan Ibunda Imam Syafi’I yang mengorbankan seluruh hartanya dan menginfakkan waktunya untuk melahirkan ulama besar, referensi peradaban Islam.

BERCITA-CITA ITU SEPARUH KESUKSESAN
Kesuksesan tidak semata-mata diukur pada hasil tapi juga pada proses. Proses merencanakan dengan tujuan yang benar dan mulia. Proses mengorganisasikan dengan rapi dan sistematis. Proses melaksanakan dengan ikhlas, tekun, teliti dan professional. Dan proses evaluasi dengan jujur dan semangat perbaikan tak kenal henti. Dan cita-cita adalah separuh dari kesuksesan. Karena orang yang bercita mulia tak modah goyah untuk menggadaikan di tengah jalan, menukar dengan yang hina dan rendah.

Memiliki cita-cita berarti memiliki tujuan hidup yang jelas. Memiliki kejelasan tujuan adalah separuh dari kesuksesan. Adapun yang separuh itu adalah bagaimana kita menempuhnya. Oleh karena itu, persiapkan cita-citamu sejak sekarang. Karena orang yang cerdas, yang punya cita-cita jelas adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kosong.

CITA-CITA DUNIA
Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Ibrahim Al Harbi, yang berguru pada Imam Ahmad mengatakan,”Aku telah menyertai Imam Ahmad bin Hambal selama dua puluh tahun. Saat musim dingin atau musim panas, siang atau malam, tak pernah aku dapati kecuali ia lebih baik dari sebelumnya.” ( Manaqib Ibnu Hambal, Ibnul Jauzy )

Salah bentuk ungkapan cita-cita adalah doa. Kita kaum Muslimin punya sebuah doa yang sangat populer, yakni Rabbana aatina fiddun-ya hasanah wa fil akhirati hasanah waqinaa 'adzaban naar. Ya Allah! Berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan berikan pula kebaikan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.” ( Al-baqarah:201 )

Doa itu adalah wajah cita-cita kita. Namun sudahkah kita menghayati cita-cita kita itu? Lalu tahukah kita apa sebenarnya yang kita citakan? Seperti doa di atas. Kalau kebahagiaan akhirat rata-rata sudah jelas yakni surga dan segala kenikmatannya. Tapi apa makna kebahagian dunia?

CITA-CITA AKHIRAT
Bila Anda telah memiliki cita-cita dunia. Maka mari selanjutnya kita meraih cita-cita akhirat. Bagaimana tidak, sedangkan kita semua pasti akan mati. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita mati dan mempersiapkan diri menghadapi kematian. Sebab, rasa mati itu sama, tapi sebabnya beragam, nilainya berbeda. Ada yang syahid karena taat, ada yang “sangit” karena gosong dalam bermaksiat. Ada yang mulia karena taqwa dan banyak yang hina karena angkara.

Cita-cita akhirat inilah puncak kita untuk beristirahat. Seperti kata Imam Ahmad saat ditanya kapan seorang mukmin beristirahat? “ saat ia menginjakkan kakinya di surga” Jawab beliau.

Lalu apa cita-cita akhirat yang bisa kita rintis? Berikut beberapa contoh obsesi yang mestinya kita miliki :
1.Proses meninggal tanpa sakratul maut yang membebani diri dan orang lain.
2.Tidak meinggal duni pada saat kejadian hari kiamat yang dahsyat.
3.Meninggal dunia saat berjihad di jalan Allah di medan pertempuran seperti yang dicita-citakan Khalid bin Walid.
4.Meninggal dunia saat melakukan amal-amal sholeh dan amal unggulan yang dirintisnya.
5.Meningal dunia tanpa memiliki hutang-hutang sehingga tidak memberatkan perhitungan di yaumil hisab.
6.Mendapatkan rahmat Allah di alam kubur seperti orang-orang yang gemar menghafal al-Qur'an, memberikan penerangan jalan dan banyak memakmurkan masjid Allah.
7.Mendapatkan syafa'at di padang mahsyar. Renungkan tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat, apakah kita masuk salah satunya.
8.Dimudahkan saat pengadilan akhir nanti.
9.Dimudahkan saat melewati shiratal mustaqim.
10.Ada keringanan siksa neraka.
11.Tidak terlalu lama berada di neraka.
12.Mendapatkan ampunan yang banyak atas berbagai dosa dan kesalahan.
13.Dapat berkumpul dengan keluarga di surga.
14.Bertemu lebih dekat dengan orang-orang sholeh.
15.Bertemu dengan Rasulullah dan orang-orang yang kita kagumi, yang belum sempat bertemu.
16.Melihat Wajah Allah di surga.

FOKUSKAN DIRI UNTUK MERAIH CITA
Kita mesti memiliki prioritas dan fokus dalam hidup kita. Fokuskan pada kekuatan, pada apa yang kita miliki untuk mampu mendahsyatkan potensi meraih prestasi. Seperti kaca pembesar yang mengumpulkan sinar pada satu titik untuk dapat membakar.

Mengapa fokus penting? Karena setiap kita memiliki kekhasan masing-masing. Contohnya Hasan bin Tsabit ia tak pandai melantunkan adzan, karena ia bukan Bilal. Khalid bin Walid tidak pintar membagi warisan karena ia memang bukan Zaid bin Tsabit yang pakar di bidang faraidh. Imam Sibawaih yang pakar Nahwu merasa gundah saat belajar ilmu hadits karena ia bukan Imam Bukhari yang siap berhari-hari menempuh perjalanan panjang demi mendapat hadits untuk diseleksi.

Kita mesti menyadari bahwa setiap kita memiliki keterbatasan-keterbatasan. Namun, di balik keterbatasan itulah tersimpan kelebihan. Bila kita berpikir positif, sesungguhnya dengan keterbatasan itulah seseorang bisa “bersyukur” untuk meledakkanya menjadi keluarbiasaan.

Kuncinya adalah selalu bersyukur sehingga selalu fokus pada apa yang dimiliki. Menikmati apa yang ada, bukan meratapi apa yang tiada atau hilang dari genggaman tangan kita. Kita tak selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, namun sesungguhnya kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karenanya fokuskan pada apa yang ada, jangan risau pada yang tiada. Bersyukurlah. (Al Bashirah Edisi 05 Tahun II Rubrik Tanmiyah)

Jumat, 25 September 2009

Karena Kita Harus Berubah!

Ini adalah sebuah kisah tentang semangat para hamba pemimpi surga. Sebab tabiat mimpi ini mengharuskan kita untuk terus berada dalam pusaran perubahan. Berubah dari yang baik ke arah yang semakin baik. Atau dalam bahasa yang sering kita dengarkan: “Hari ini jauh lebih baik dari yang kemarin”. Tidak sekedar berhenti pada: “Hari ini sama saja dengan yang kemarin”. Apalagi “Hari ini lebih buruk dari yang kemarin”.


Ibrahim al-Harby pernah bertutur tentang Imam Ahl al-Sunnah di zamannya, Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah merahmatinya-. Setelah bertahun-tahun lamanya Ibrahim al-Harby menyertai sang Imam, ia sampai pada sebuah titik untuk mengatakan: “Aku telah menyertai Ahmad ibn Hanbal selama 20 tahun lamanya(!), siang dan malam, di musim dingin dan semi, di musim panas maupun dingin, namun tidak sehari pun aku bersamanya, melainkan ia hari ini pasti lebih baik dari yang sebelumnya.”

Satu-satunya yang dapat kita pahami dari pitutur itu adalah: adanya sebuah proses change (perubahan) yang berkesinambungan dalam diri Sang Imam. Tidak dalam hitungan tahun, bulan atau minggu. Tetapi dalam hitungan hari! Ya, setiap hari selalu ada progress dan target tertentu dalam kehidupan Sang Imam untuk sampai pada titik kebaikan yang lebih tinggi dari sehari sebelumnya.

Sekarang marilah kita berbicara dalam tataran jamaah. Mungkin kita sudah sampai pada sebuah titik kesepakatan, bahwa kerja-kerja dakwah haruslah berjalan dalam sebuah proses sinergis keberjamaahan. Tapi sudah efektifkah keberjamaahan kita? Bersyukurlah kita jika keberjamaahan itu dibangun di atas manhaj yang haq: manhaj al-Salaf al-Shaleh. Tetapi tetap saja ada sunnatullah lain yang harus kita patuhi demi meraih kesuksesan kerja-kerja dakwah dalam bingkai keberjamaahan. Ini sama saja dengan sunnatullah korelasi prinsip keadilan dan keberhasilan sebuah negara yang pernah “digagas” oleh Ibnu Taimiyah beberapa abad yang lalu. Beliau pernah menegaskan bahwa sebuah negara yang kafir namun berkeadilan itu akan ditegakkan oleh Allah, sementara negara yang muslim namun tidak adil justru akan direndahkan oleh-Nya.

Intinya adalah bahwa keinginan untuk menjadi lebih baik sudah pasti menuntut kita untuk berubah. Dan kaitannya dengan kerja-kerja jamaah, perubahan itu sungguh berat untuk dilakukan. Mengapa? Karena melibatkan begitu banyak subjek sekaligus objek. Perubahan dalam sebuah jamaah harus berawal dari perubahan dalam tataran individu jamaah itu sendiri. Dan sudah tentu berawal dari mereka yang dianggap sebagai sang pemimpin.

Dalam Re-Code Your Change DNA (Rhenald.K, Februari 2007, hal. 18) disebutkan bahwa setidaknya ada 5 hal mendasar yang dibutuhkan untuk sebuah perubahan:

1. Vision, atau sebuah visi tentang masa depan. Apa jadinya sebuah jamaah yang tidak memiliki visi yang kuat tentang masa depannya? Para aktifisnya hanya dipacu bekerja dan bekerja, merespons semua yang ada secara reaktif tapi tidak efektif. Nampaknya dapat bekerja dengan cepat, tetapi sebenarnya tidak ada perubahan yang berarti selain pada pemimpinnya. Yang ada hanya sebuah kekacauan (confusion). Tidak ada kesatuan pikiran dan tindakan. Pancaran energi jamaah tidak terfokus, karena masing-masing komponen bergerak sendiri-sendiri tanpa arah dan visi yang seragam.

2. Skills, atau keterampilan untuk mampu melakukan tuntutan-tuntutan baru. Jenis keterampilan semacam ini harus ditumbuhkan. Jika sebuah jamaah tidak didukung oleh keterampilan yang memadai, maka yang adalah anxiety atau kecemasan-kecemasan. Sang pemimpin cemas akan kemampuan bawahan, sang bawahan cemas akan dirinya sendiri. Kecemasan semacam ini akan melahirkan stres, rumor (isu), kejengkelan, dan lain sebagainya. Untuk memperbaharui ini menjadi penting sekali untuk menanamkan “kode-kode perubahan” dalam kepala mereka.

3. Incentives, atau insentif yang memadai baik langsung maupun tidak langsung, cash atau non-cash. Perubahan menuntut pengorbanan, bahkan penderitaan. Tapi nyatanya ini sulit sekali diterapkan. Orang-orang seringkali bertanya: siapa yang harus berkorban? Menghapa harus saya? Apakah yang di atas juga siap berkorban? Tanpa adanya insentif, maka yang lahir adalah resistensi atau penolakan. Tuntutan perbaikan kinerja jamaah harus sejalan dengan perbaikan insentif mereka. Apakah ini berarti kerja jamaah harus berpikir ala perusahaan profesional? Mungkin ini poin yang harus direnungkan. Yang pasti antara keikhlasan berjuang dan profesionalisme bukanlah dua hal yang paradoks atau bertentangan.

4. Resources, atau sumber daya yang memudahkan perubahan dan pertumbuhan jamaah.

5. Action Plan, atau rencana tindakan. Ketika berbicara tentang rencana, kita mungkin sering hanya terjebak dalam “rencana strategis” dan melupakan “rencana tindakan” atau rencana yang berorientasi pada action kita. Jika dalam rencana strategis kita menetapkan arah dan tujuan jangka panjang, maka dalam rencana tindakan kita harus menulis perincian sasaran, waktu serta sumberdaya yang dibutuhkan. Ingatlah satu hal: kalau Anda gagal membuat rencana tindakan, maka Anda sedang merencakan untuk gagal!

Yang pasti adalah bahwa perubahan ke arah yang lebih baik menuntut pembelajaran yang berkelanjutan. Buka mata. Buka hati. Buka pikiran. All people have brain, but only few use their brain. Semua orang memiliki otak, namun hanya sedikit yang menggunakan pikiran mereka.
Terakhir, sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka merubah keadaan mereka sendir